
Pernahkah kita menyesal setelah mengatakan sesuatu?
Satu kalimat mungkin terdengar sederhana. Namun, ucapan tersebut bisa menyakiti hati orang lain. Bahkan, perkataan yang keluar tanpa dipikirkan dapat menimbulkan masalah yang panjang.
Karena itu, Islam mengajarkan kita untuk menjaga lisan.
Lisan dapat menjadi jalan menuju kebaikan. Sebaliknya, lisan juga dapat menjadi sumber dosa jika digunakan tanpa pertimbangan.
Maka dari itu, menjaga lisan bukan hanya tentang mengurangi bicara. Kita juga perlu belajar memilih perkataan yang baik.
Mengapa Kita Perlu Menjaga Lisan?
Lisan adalah salah satu nikmat yang Allah berikan kepada manusia.
Dengan lisan, kita dapat membaca Al-Qur’an, berdzikir, menyampaikan ilmu, memberi nasihat, dan menghibur orang lain.
Namun, lisan juga dapat digunakan untuk berkata kasar, menghina, menyebarkan keburukan, atau menyakiti orang lain.
Berikutnya, kita perlu memahami bahwa setiap perkataan memiliki dampak.
Ucapan yang baik dapat membuat seseorang merasa dihargai. Sebaliknya, ucapan yang buruk dapat meninggalkan luka yang sulit dilupakan.
Karena itu, sebelum berbicara, kita perlu membiasakan diri untuk berpikir terlebih dahulu.
Ucapan Bisa Menjadi Sumber Kebaikan
Tidak semua perkataan harus dihindari.
Islam justru mendorong kita untuk menggunakan lisan dalam perkara yang baik.
Contohnya, kita dapat menggunakan lisan untuk mengucapkan salam, membaca Al-Qur’an, berdzikir, mengajarkan ilmu, dan memberikan nasihat.
Kita juga dapat menghibur orang yang sedang sedih melalui perkataan yang lembut.
Bahkan, ucapan sederhana seperti “terima kasih”, “maaf”, atau “semoga Allah memudahkan urusanmu” dapat menjadi bentuk kebaikan.
Dengan pemikiran ini, menjaga lisan bukan berarti kita harus selalu diam.
Yang perlu dijaga adalah apa yang kita katakan dan bagaimana cara kita mengatakannya.
Perkataan yang Buruk Bisa Menyakiti Orang Lain
Ada kalanya seseorang menganggap perkataannya hanya bercanda.
Padahal, orang yang mendengarnya bisa saja merasa terluka.
Berbeda dari niat yang mungkin dianggap ringan oleh seseorang, dampak sebuah ucapan belum tentu ringan bagi orang lain.
Candaan tentang fisik, keluarga, kekurangan, atau kesalahan seseorang dapat membuatnya merasa malu dan rendah diri.
Karena itu, kita perlu berhati-hati ketika bercanda.
Jangan sampai sesuatu yang kita anggap lucu justru menjadi sumber kesedihan bagi orang lain.
Lisan Bisa Menimbulkan Masalah yang Panjang
Masalah besar terkadang bermula dari perkataan yang sederhana.
Seseorang menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Perkataan tersebut kemudian diteruskan kepada orang lain lagi.
Kemudian, maknanya bisa berubah atau menjadi semakin besar.
Akhirnya, muncul kesalahpahaman dan pertengkaran.
Hal seperti ini menunjukkan bahwa kita perlu berhati-hati sebelum menyampaikan sesuatu.
Tidak semua hal yang kita dengar harus diceritakan kembali.
Tidak semua hal yang kita ketahui juga harus disampaikan kepada orang lain.
Jangan Berbicara Jika Tidak Ada Kebaikan
Dalam poster tersebut terdapat pesan:
“Maka tahanlah lisanmu kecuali dari kebaikan.”
Pesan ini mengingatkan kita agar tidak menggunakan lisan secara sembarangan.
Terutama, ketika kita sedang marah, kecewa, atau tersinggung, menjaga ucapan menjadi semakin penting.
Pada kondisi seperti itu, seseorang dapat berbicara tanpa memikirkan akibatnya.
Setelah emosi mereda, penyesalan mungkin baru muncul.
Karena itu, menahan diri sebelum berbicara dapat menjadi bentuk penjagaan terhadap diri sendiri.
Belajar Diam pada Waktu yang Tepat
Diam juga dapat menjadi bentuk kebaikan.
Ada keadaan ketika berbicara memang diperlukan. Namun, ada pula keadaan ketika diam justru lebih baik.
Kendatipun begitu, diam bukan berarti membiarkan kemungkaran atau tidak peduli kepada orang lain.
Diam yang dimaksud adalah menahan ucapan yang tidak bermanfaat atau dapat membawa keburukan.
Misalnya, ketika pembicaraan mulai berubah menjadi ghibah, kita dapat memilih untuk tidak ikut membicarakannya.
Jika memungkinkan, kita juga dapat mengalihkan pembicaraan kepada hal yang lebih baik.
Berpikir Sebelum Berbicara
Salah satu kebiasaan yang dapat kita latih adalah berhenti sejenak sebelum berbicara.
Tanyakan kepada diri sendiri:
Apakah perkataan ini benar?
Apakah perkataan ini bermanfaat?
Apakah cara menyampaikannya dapat menyakiti orang lain?
Apakah saya perlu mengatakannya sekarang?
Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu kita lebih berhati-hati.
Dengan demikian, kita tidak hanya memikirkan apa yang ingin disampaikan. Kita juga mempertimbangkan dampak dari perkataan tersebut.
Menjaga Lisan di Media Sosial
Menjaga lisan tidak hanya berlaku ketika kita berbicara secara langsung.
Pada zaman sekarang, tulisan di media sosial juga menjadi bagian dari komunikasi.
Komentar, unggahan, pesan pribadi, dan balasan di media sosial dapat dibaca oleh orang lain.
Contohnya, kita mungkin menulis komentar ketika sedang marah. Beberapa menit kemudian, kita merasa menyesal karena komentar tersebut sudah terlanjur dibaca banyak orang.
Karena itu, prinsip menjaga lisan juga perlu diterapkan ketika menggunakan media sosial.
Sebelum menekan tombol kirim, biasakan untuk membaca kembali tulisan kita.
Jika isinya tidak membawa kebaikan, mungkin lebih baik tidak perlu dikirim.
Jangan Mudah Menyampaikan Kabar yang Belum Jelas
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah informasi yang kita sampaikan.
Kita mungkin menerima sebuah cerita dari seseorang. Namun, belum tentu cerita tersebut benar.
Sebelumnya, pastikan informasi yang kita terima sudah jelas sebelum menyampaikannya kepada orang lain.
Jangan sampai kita ikut menyebarkan kabar yang belum terbukti kebenarannya.
Satu informasi yang salah dapat merugikan orang lain.
Karena itu, berhati-hati dalam menyampaikan informasi juga merupakan bagian dari menjaga lisan.
Menjaga Lisan Dimulai dari Hati
Perkataan seseorang sering kali mencerminkan apa yang ada di dalam hatinya.
Ketika hati dipenuhi kemarahan, ucapan bisa menjadi kasar. Saat hati dipenuhi rasa iri, seseorang dapat mudah membicarakan kekurangan orang lain.
Oleh sebab itu, memperbaiki lisan juga perlu disertai dengan memperbaiki hati.
Biasakan memperbanyak dzikir. Dekatkan diri kepada Al-Qur’an. Latih diri untuk memaafkan.
Dengan hati yang lebih tenang, kita akan lebih mudah mengendalikan ucapan.
Jangan Menunggu Menyakiti Orang Lain untuk Belajar Menjaga Lisan
Sering kali seseorang baru menyadari pentingnya menjaga lisan setelah perkataannya melukai orang lain.
Padahal, kita tidak perlu menunggu penyesalan untuk belajar berhati-hati.
Berikutnya, kita dapat mulai melatihnya dari percakapan sehari-hari.
Kurangi kebiasaan mengomentari kekurangan orang lain. Hindari perkataan yang merendahkan. Jangan menjadikan kesalahan orang lain sebagai bahan candaan.
Sebaliknya, biasakan berbicara dengan lembut dan menyampaikan sesuatu yang bermanfaat.
Jadikan Lisan sebagai Jalan Menuju Kebaikan
Lisan yang dijaga bukan berarti kehilangan kesempatan untuk berbuat baik.
Justru, kita dapat menjadikannya sebagai sarana untuk mendapatkan pahala.
Contohnya, gunakan lisan untuk membaca Al-Qur’an. Gunakan untuk berdzikir. Gunakan untuk mengajarkan ilmu.
Kita juga dapat menggunakannya untuk menyemangati orang lain dan mengingatkan dalam kebaikan.
Setiap kali akan berbicara, cobalah bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah perkataanku membawa kebaikan?”
Jika jawabannya tidak, menahan diri bisa menjadi pilihan yang lebih baik.
Penutup
Lisan adalah nikmat yang harus dijaga.
Satu perkataan dapat menjadi sebab datangnya kebaikan. Sebaliknya, satu perkataan juga dapat menjadi sebab munculnya luka dan masalah.
Seperti yang sudah dijelaskan, kita tidak harus selalu diam untuk menjaga lisan.
Kita hanya perlu belajar memilih perkataan yang baik dan menahan ucapan yang dapat membawa keburukan.
Mulailah dari hal sederhana.
Pikirkan sebelum berbicara. Jangan mudah menyampaikan sesuatu yang belum jelas. Hindari perkataan yang menyakiti. Gunakan lisan untuk mengajak kepada kebaikan.
Pada akhirnya, menjaga lisan adalah bagian dari menjaga diri.
Semoga Allah membantu kita untuk menggunakan lisan dalam kebaikan dan menjauhkan kita dari ucapan yang dapat membawa dosa.
“Maka tahanlah lisanmu kecuali dari kebaikan.”
Bergegaslah menuju ampunan Allah.




