DZIKIR PAGI & PETANG (Kajian #3)

Dzikir pagi dan petang merupakan amalan yang diajarkan Rasulullah ﷺ untuk menjaga hati, memperkuat tauhid, memohon keselamatan, serta berlindung kepada Allah dari berbagai keburukan.

Pada Dzikir Pagi & Petang Kajian #3 ini, pembahasan dilanjutkan dengan beberapa doa penting yang berkaitan dengan afiyah, perlindungan dari keburukan diri dan setan, perlindungan dari bala, serta keridhaan kepada Allah.

Kajian Kedelapan: Doa Memohon Afiyah pada Agama, Badan, dan Akhirat

Matan Dzikir

Dari Abu Bakrah رضي الله عنه, bahwa beliau membaca setiap pagi dan petang:

اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

Dibaca tiga kali pada pagi dan petang.

Terjemah

"Ya Allah, berilah aku afiyah pada tubuhku. Ya Allah, berilah aku afiyah pada pendengaranku. Ya Allah, berilah aku afiyah pada penglihatanku. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau.

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kemiskinan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau."

Rawi: Abu Bakrah Nufai' bin Al-Harits رضي الله عنه

Sumber Hadits

  • Sunan Abu Dawud no. 5090.
  • Diriwayatkan pula dalam 'Amal al-Yaum wa al-Lailah karya An-Nasa'i.
  • Hadits ini dinilai hasan oleh sejumlah ulama hadits.

Asbabul Wurud

Abdurrahman bin Abi Bakrah berkata kepada ayahnya:

"Wahai ayahku, aku mendengarmu membaca doa ini setiap pagi dan petang sebanyak tiga kali."

Maka Abu Bakrah رضي الله عنه menjawab:

"Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ berdoa dengan doa tersebut, dan aku senang mengikuti sunnah beliau."

Dengan demikian, hadits ini menunjukkan bagaimana para sahabat tidak hanya meriwayatkan sunnah, tetapi juga mendawamkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Apa yang Dimaksud dengan "Afiyah"?

Para ulama menjelaskan bahwa:

الْعَافِيَةُ

adalah keselamatan dan penjagaan dari berbagai keburukan pada agama, dunia, dan akhirat.

Karena itu, doa ini bukan hanya permohonan agar seseorang disembuhkan setelah tertimpa penyakit, tetapi juga permohonan agar Allah memberikan keselamatan dan penjagaan sebelum musibah datang.

Inilah salah satu makna penting dari afiyah.

Fadhilah dan Keutamaan

1. Memohon Afiyah kepada Allah

Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ mengajarkan:

سَلُوا اللَّهَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ

"Mintalah kepada Allah ampunan dan afiyah."

Karena itu, memohon afiyah merupakan salah satu doa yang sangat penting bagi seorang muslim.

2. Menjaga Nikmat Besar Setelah Iman

Rasulullah ﷺ secara khusus menyebut:

  • badan,
  • pendengaran,
  • penglihatan.

Ketiganya merupakan nikmat besar yang sering kali baru disadari ketika mulai berkurang atau terganggu.

3. Perlindungan dari Tiga Perkara Besar

Dalam satu doa ini, Rasulullah ﷺ mengajarkan perlindungan dari:

  • kekufuran,
  • kefakiran,
  • dan azab kubur.

Doa tersebut menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak hanya memikirkan keselamatan dunia, tetapi juga keselamatan agamanya dan kehidupan setelah kematian.

Penjelasan Ulama

Ibnul Qayyim رحمه الله

Beliau menjelaskan bahwa afiyah berkaitan dengan penjagaan Allah terhadap seorang hamba dari berbagai keburukan yang dapat menimpa agama dan kehidupannya.

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah رحمه الله

Para ulama juga menjelaskan besarnya kedudukan afiyah dan bahwa keselamatan merupakan salah satu nikmat besar yang patut diminta seorang hamba kepada Allah.

Tiga Faedah Utama

Faedah Pertama

Seorang mukmin membutuhkan penjagaan Allah, bukan hanya pertolongan setelah musibah terjadi.

Faedah Kedua

Keselamatan agama harus menjadi perhatian utama seorang muslim.

Faedah Ketiga

Nikmat badan, pendengaran, dan penglihatan merupakan nikmat besar yang patut disyukuri dan dijaga.

Referensi utama: Sunan Abu Dawud no. 5090; 'Amal al-Yaum wa al-Lailah karya An-Nasa'i; Hisnul Muslim, Bab Dzikir Pagi dan Petang.


Kajian Kesembilan: Sayyid Doa Al-'Afiyah

Matan Hadits

Dari Abdullah bin Umar رضي الله عنهما, beliau berkata:

لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدَعُ هَؤُلَاءِ الدَّعَوَاتِ حِينَ يُمْسِي وَحِينَ يُصْبِحُ

Kemudian beliau menyebutkan doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي، وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي

Terjemah

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan afiyah di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan afiyah pada agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah aib-aibku dan tenteramkanlah ketakutanku.

Ya Allah, jagalah aku dari depanku, dari belakangku, dari kananku, dari kiriku, dan dari atasku. Dan aku berlindung dengan keagungan-Mu agar aku tidak dibinasakan dari bawahku."

Rawi: Abdullah bin Umar رضي الله عنهما

Sumber Hadits

  • Sunan Abu Dawud no. 5074.
  • Sunan Ibnu Majah no. 3871.
  • Musnad Ahmad.
  • Dishahihkan oleh sejumlah ulama hadits.

Asbabul Wurud

Tidak terdapat sebab khusus yang disebutkan dalam riwayat. Namun, Abdullah bin Umar رضي الله عنهما menegaskan bahwa Rasulullah ﷺ tidak meninggalkan doa ini ketika pagi dan petang.

Hal ini menunjukkan besarnya kedudukan doa memohon afiyah dalam kehidupan seorang mukmin.

Mengapa Doa Ini Sangat Agung?

1. Dimulai dengan Memohon Ampunan

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ

Karena seorang hamba membutuhkan ampunan Allah atas dosa-dosanya.

2. Dilanjutkan dengan Memohon Afiyah

وَالْعَافِيَةَ

Setelah memohon ampunan, seorang hamba juga memohon keselamatan dan penjagaan dari berbagai keburukan.

3. Mencakup Seluruh Aspek Kehidupan

Rasulullah ﷺ tidak hanya meminta afiyah untuk:

  • agama,
  • dunia,
  • keluarga,
  • dan harta,

tetapi juga memohon keamanan, ketenteraman, dan penjagaan dari berbagai arah.

Fadhilah dan Keutamaan

1. Doa yang Senantiasa Dijaga Rasulullah ﷺ

Perkataan Abdullah bin Umar:

لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدَعُ

menunjukkan bahwa doa ini termasuk doa yang beliau ﷺ jaga pada waktu pagi dan petang.

2. Menghimpun Banyak Kebutuhan Manusia

Dalam satu doa ini terkumpul permohonan:

  • keselamatan agama,
  • keselamatan dunia,
  • keselamatan keluarga,
  • keselamatan harta,
  • keselamatan jiwa,
  • serta perlindungan lahir dan batin.

3. Memohon Perlindungan dari Berbagai Arah

مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي، وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي

Ini merupakan permohonan perlindungan yang sangat menyeluruh.

Penjelasan Ulama

Imam An-Nawawi رحمه الله

Beliau menjelaskan bahwa al-'afwu berkaitan dengan dihapusnya dosa, sedangkan al-'afiyah berkaitan dengan keselamatan dari berbagai musibah agama dan dunia.

Ibnul Qayyim رحمه الله

Beliau menjelaskan besarnya kedudukan afiyah dan bahwa seorang hamba membutuhkan penjagaan Allah dalam berbagai keadaan.

Penjelasan Tambahan

وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي

Imam Waki' رحمه الله menjelaskan:

أي: الخسف

Yakni, "aku berlindung dari ditelan bumi atau kebinasaan yang datang dari bawah."

Para ulama juga menjelaskan bahwa lafazh ini menunjukkan permohonan perlindungan dari kebinasaan yang datang secara tiba-tiba.

Tiga Faedah Utama

Faedah Pertama

Seorang mukmin hendaknya banyak meminta penjagaan dan keselamatan kepada Allah.

Faedah Kedua

Keselamatan agama harus didahulukan sebelum keselamatan dunia.

Faedah Ketiga

Semakin seorang hamba menyadari kelemahannya, semakin besar kebutuhannya kepada pertolongan dan penjagaan Allah.

Penutup

Doa ini adalah pengakuan seorang hamba bahwa ia tidak mampu menjaga dirinya sendiri.

Karena itu, setiap pagi dan petang ia memohon:

  • ampunan,
  • keselamatan,
  • perlindungan,
  • keamanan,
  • ketenteraman,
  • dan penjagaan dari berbagai arah.

Maka doa ini menjadi salah satu bentuk tawakkal seorang hamba kepada Allah Ta'ala.

Referensi utama: Sunan Abu Dawud no. 5074; Sunan Ibnu Majah no. 3871; Musnad Ahmad; Hisnul Muslim, Bab Dzikir Pagi dan Petang.


Kajian Kesepuluh: Doa Perlindungan dari Kejahatan Diri Sendiri dan Tipu Daya Setan

Asbabul Wurud

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, beliau meriwayatkan bahwa Abu Bakr Ash-Shiddiq رضي الله عنه berkata:

"Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang aku baca ketika pagi dan petang."

Maka Rasulullah ﷺ mengajarkan:

اللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ

Dalam sebagian riwayat ditambahkan:

وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءًا، أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

"Dan aku berlindung kepada-Mu dari berbuat keburukan terhadap diriku sendiri, atau menyeretnya kepada seorang muslim."

Terjemah

"Ya Allah, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang tampak, Pencipta langit dan bumi, Rabb dan Penguasa segala sesuatu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku sendiri, dari kejahatan setan dan kesyirikannya, serta dari perbuatan buruk yang aku lakukan terhadap diriku sendiri atau yang aku timpakan kepada seorang muslim."

Rawi dan Takhrij

Sahabat yang meminta: Abu Bakr Ash-Shiddiq رضي الله عنه

Perawi hadits: Abu Hurairah رضي الله عنه

Sumber hadits:

  • Sunan Abu Dawud no. 5067.
  • Jami' At-Tirmidzi no. 3392.
  • Musnad Ahmad.
  • Al-Adab Al-Mufrad no. 1202.

Status hadits: Hasan shahih, sebagaimana dinilai oleh Imam At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani.

Mengapa Abu Bakr Meminta Doa Ini?

Perhatikan. Abu Bakr رضي الله عنه tidak meminta:

  • doa kekayaan,
  • doa kemenangan,
  • doa panjang umur.

Beliau justru meminta perlindungan dari:

شَرِّ نَفْسِي

"kejahatan diriku sendiri."

Ini menunjukkan besarnya perhatian para sahabat terhadap penyakit hati, hawa nafsu, dan keburukan yang dapat muncul dari dalam diri manusia.

Fadhilah dan Keutamaan

1. Mengandung Tauhid

Doa ini dimulai dengan:

عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ

yaitu pengakuan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi maupun yang tampak.

Kemudian:

رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ

yaitu pengakuan bahwa seluruh makhluk berada di bawah rububiyah dan kekuasaan Allah.

2. Perlindungan dari Musuh yang Dekat

Rasulullah ﷺ mengajarkan Abu Bakr untuk berlindung dari:

  • keburukan diri,
  • keburukan setan,
  • dan kesyirikannya.

Hal ini mengingatkan seorang mukmin bahwa perjuangan melawan hawa nafsu dan godaan setan merupakan bagian penting dalam menjaga iman.

3. Menjaga Diri agar Tidak Menyakiti Orang Lain

Tambahan lafazh:

أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

mengajarkan seorang mukmin untuk tidak hanya takut berbuat buruk terhadap dirinya sendiri, tetapi juga takut menzalimi orang lain.

Penjelasan Ulama

Ibnul Qayyim رحمه الله

Beliau menjelaskan bahwa keburukan manusia berkaitan erat dengan keburukan jiwa dan godaan setan. Karena itu, seorang hamba membutuhkan pertolongan Allah untuk menjaga dirinya dari keduanya.

Syaikh Ibn Utsaimin رحمه الله

Beliau menjelaskan pentingnya seorang hamba berlindung kepada Allah dari keburukan dirinya sendiri, karena jiwa manusia dapat mengajak kepada keburukan apabila tidak diarahkan dan dijaga.

Tiga Faedah Utama

Faedah Pertama

Orang yang ingin memperbaiki dirinya perlu mengenali kelemahan yang ada dalam dirinya.

Faedah Kedua

Hawa nafsu dan godaan setan merupakan perkara yang harus diwaspadai seorang mukmin.

Faedah Ketiga

Seorang muslim tidak hanya menjaga dirinya dari dosa, tetapi juga menjaga agar keburukannya tidak menimpa orang lain.

Hikmah Mulia

Ketika manusia biasa sibuk menyalahkan keadaan, keluarga, atau lingkungan, Abu Bakr Ash-Shiddiq رضي الله عنه justru meminta:

"Ya Allah, lindungilah aku dari diriku sendiri."

Ini mengajarkan kepada kita bahwa introspeksi dan memohon pertolongan Allah merupakan bagian penting dari perjalanan memperbaiki diri.

Referensi utama: Sunan Abu Dawud no. 5067; Jami' At-Tirmidzi no. 3392; Al-Adab Al-Mufrad no. 1202; Al-Wabil ash-Shayyib karya Ibnul Qayyim.


Kajian Kesebelas: Dzikir Perlindungan dari Bala yang Datang Tiba-Tiba

Matan Hadits

Dari Utsman bin Affan رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ، وَلَا فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

ثَلَاثَ مَرَّاتٍ حِينَ يُصْبِحُ، وَثَلَاثَ مَرَّاتٍ حِينَ يُمْسِي، لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلَاءٍ

Terjemah

"Barang siapa mengucapkan:

'Dengan nama Allah yang bersama nama-Nya tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang dapat membahayakan, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,'

sebanyak tiga kali pada pagi hari dan tiga kali pada petang hari, maka ia tidak akan ditimpa bala yang datang secara tiba-tiba."

Sahabat perawi: Utsman bin Affan رضي الله عنه

Perawi Tabi'in: Aban bin Utsman رحمه الله

Sumber Hadits

  • Sunan Abu Dawud no. 5088.
  • Jami' At-Tirmidzi no. 3388.
  • Sunan Ibnu Majah.
  • Musnad Ahmad.

Imam At-Tirmidzi berkata:

هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

"Hadits ini hasan shahih."

Asbabul Wurud dan Kisah yang Menyertainya

Aban bin Utsman رحمه الله pernah mengalami penyakit lumpuh sebagian. Suatu hari, seseorang yang mengetahui hadits ini memperhatikan beliau dengan heran.

Aban berkata bahwa pada hari ketika musibah tersebut menimpanya, beliau sedang marah sehingga lupa membaca dzikir tersebut.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa seseorang tetap harus memahami dzikir sebagai sebab syar'i, bukan sebagai jaminan bahwa seorang hamba tidak akan pernah mengalami ujian.

Apa yang Dimaksud "Bala yang Datang Tiba-Tiba"?

فَجْأَةُ بَلَاءٍ

adalah musibah yang datang secara mendadak dan tidak disangka-sangka.

Contohnya dapat berupa:

  • penyakit mendadak,
  • kecelakaan,
  • bencana,
  • gangguan makhluk,
  • atau berbagai bentuk musibah yang Allah kehendaki untuk ditahan dari seorang hamba.

Namun, hal ini bukan berarti seorang mukmin pasti tidak akan pernah diuji.

Seorang muslim tetap meyakini bahwa segala sesuatu terjadi dengan izin dan hikmah Allah.

Fadhilah dan Keutamaan

1. Perlindungan dari Bala Mendadak

Ini merupakan fadhilah yang disebutkan dalam hadits tersebut.

2. Menguatkan Tawakkal

Dzikir ini mengajarkan bahwa tidak ada makhluk yang dapat memberikan mudarat secara independen dari kehendak Allah.

Allah Ta'ala berfirman:

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ

"Jika Allah menimpakan suatu mudarat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia."

QS. Al-An'am: 17

3. Menanamkan Keyakinan terhadap Asma Allah

Dzikir ini ditutup dengan dua nama Allah:

السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

Penjelasan Ulama

Ibnul Qayyim رحمه الله

Beliau menjelaskan bahwa dzikir-dzikir perlindungan berkaitan dengan iman, keyakinan, keikhlasan, dan kehadiran hati seorang yang mengamalkannya.

Syaikh Ibn Utsaimin رحمه الله

Dzikir bukanlah jimat, tetapi merupakan ibadah dan sebab syar'i yang diajarkan dalam syariat.

Tiga Faedah Utama

Faedah Pertama

Seorang mukmin mengambil sebab, tetapi hatinya tetap bergantung hanya kepada Allah.

Faedah Kedua

Seorang mukmin perlu menjaga dzikirnya dan tidak meremehkan amalan yang diajarkan Rasulullah ﷺ.

Faedah Ketiga

Keyakinan kepada Allah menjadikan hati lebih tenang ketika menghadapi sesuatu yang tidak diketahui.

Hikmah Mulia

Perhatikanlah kehidupan para sahabat. Mereka tidak merasa aman hanya karena kekuatan, ilmu, atau kedudukan.

Mereka tetap membutuhkan penjagaan Allah.

Karena itu, setiap pagi dan petang seorang mukmin seakan berkata:

"Ya Allah, aku tidak mampu menjaga diriku sendiri. Maka jagalah aku dengan nama-Mu."

Penutup

Dzikir ini mengajarkan bahwa:

  • tidak ada musibah yang terjadi di luar pengetahuan Allah,
  • tidak ada perlindungan yang sempurna kecuali perlindungan Allah,
  • dan seorang mukmin tetap mengambil sebab sambil bertawakkal kepada-Nya.

Maka membacanya tiga kali setiap pagi dan petang merupakan salah satu amalan dzikir perlindungan yang diajarkan Rasulullah ﷺ.

Referensi utama: Sunan Abu Dawud no. 5088; Jami' At-Tirmidzi no. 3388; Musnad Ahmad; Al-Wabil ash-Shayyib karya Ibnul Qayyim.


Kajian Keduabelas: "Radhiitu Billaahi Rabban" — Jalan Menuju Keridhaan Allah

Matan Dzikir

رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ ﷺ نَبِيًّا

Dibaca tiga kali setiap pagi dan petang.

Terjemah

"Aku ridha Allah sebagai Rabb-ku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad ﷺ sebagai Nabiku."

Rawi dan Takhrij

Dalam riwayat pagi dan petang, hadits ini diriwayatkan melalui jalur yang bersumber dari salah seorang sahabat Nabi ﷺ yang meriwayatkan hadits ini melalui Abu Salam Al-Habasyi.

Sumber riwayat antara lain:

  • Sunan Abi Dawud no. 5072.
  • Sunan At-Tirmidzi no. 3389.
  • An-Nasa'i Al-Kubra.
  • Musnad Ahmad.

Para ulama menilai hadits ini sebagai hadits yang dapat diamalkan dalam bab dzikir pagi dan petang.

Matan Fadhilah

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَقُولُ حِينَ يُصْبِحُ ثَلَاثًا، وَحِينَ يُمْسِي ثَلَاثًا: رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ ﷺ نَبِيًّا، إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Terjemah Fadhilah

"Tidaklah seorang muslim mengucapkannya tiga kali pada pagi hari dan tiga kali pada petang hari, kecuali menjadi hak atas Allah untuk meridhainya pada hari kiamat."

Asbabul Wurud

Tidak terdapat sebab khusus yang disebutkan dalam riwayat.

Namun, dzikir ini mengandung pengakuan seorang mukmin terhadap tiga perkara besar:

  • Allah sebagai Rabb,
  • Islam sebagai agama,
  • Muhammad ﷺ sebagai Nabi.

Karena itu, membacanya setiap pagi dan petang menjadi pengingat untuk terus menjaga iman dan komitmen seorang muslim terhadap agamanya.

Mengapa Dzikir Ini Sangat Agung?

1. Ridha kepada Allah sebagai Rabb

رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا

Maknanya mencakup keridhaan terhadap Allah sebagai Rabb yang mengatur dan menetapkan segala sesuatu.

2. Ridha kepada Islam sebagai Agama

وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا

Seorang muslim mengakui Islam sebagai agama dan jalan hidup yang Allah ridhai.

3. Ridha kepada Muhammad ﷺ sebagai Nabi

وَبِمُحَمَّدٍ ﷺ نَبِيًّا

Artinya menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai Nabi dan teladan dalam kehidupan.

Fadhilah dan Keutamaan

1. Dijanjikan Keridhaan Allah

Ini merupakan salah satu keutamaan yang disebutkan dalam hadits tentang dzikir ini.

2. Menumbuhkan Manisnya Iman

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا

"Telah merasakan manisnya iman orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul."

HR. Muslim

3. Menguatkan Keteguhan Hati

Mengulang kalimat ini setiap pagi dan petang mengingatkan seorang muslim kepada identitas imannya dan kepada siapa ia menyerahkan kehidupannya.

Penjelasan Ulama

Ibnul Qayyim رحمه الله

Beliau menjelaskan besarnya kedudukan ridha kepada Allah dan bagaimana ridha berkaitan dengan ketenangan hati seorang hamba.

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah رحمه الله

Para ulama menjelaskan bahwa ridha kepada Allah merupakan salah satu sebab ketenangan hati dan kekuatan seorang mukmin dalam menghadapi kehidupan.

Tiga Faedah Utama

Faedah Pertama

Kebahagiaan seorang hamba tidak hanya bergantung pada banyaknya nikmat, tetapi juga pada keridhaannya kepada Allah.

Faedah Kedua

Seorang muslim perlu memperbarui pengakuannya terhadap Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad ﷺ sebagai Nabi.

Faedah Ketiga

Ridha kepada Allah merupakan bagian penting dari iman dan tawakkal.

Hikmah Mulia

Perhatikanlah. Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan kita sekadar mengatakan:

"Aku puas dengan hidupku."

Tetapi beliau mengajarkan:

"Aku ridha kepada Rabb-ku."

Karena keridhaan seorang hamba kepada Allah bukan berarti semua kehidupannya selalu berjalan sesuai keinginannya.

Justru ketika seorang hamba ridha kepada Allah, ia belajar menerima ketetapan-Nya sambil tetap berusaha dalam ketaatan.

Penutup

Dzikir ini adalah deklarasi seorang mukmin:

"Aku tidak memilih Rabb selain Allah.

Aku tidak memilih agama selain Islam.

Aku tidak memilih teladan selain Muhammad ﷺ."

Dan barang siapa yang mendawamkannya dengan hati yang hadir dan penuh keyakinan, maka ia sedang memperbarui pengakuan imannya setiap pagi dan petang.

Referensi utama:

  • Sunan Abi Dawud no. 5072.
  • Sunan At-Tirmidzi no. 3389.
  • Shahih Muslim — hadits tentang merasakan manisnya iman.

Penutup Kajian #3

Lima dzikir yang dibahas dalam Dzikir Pagi & Petang Kajian #3 memiliki satu benang merah: seorang hamba menyadari bahwa dirinya lemah dan membutuhkan pertolongan Allah dalam setiap keadaan.

Dari memohon afiyah, meminta perlindungan dari keburukan diri dan setan, berlindung dari bala yang datang tiba-tiba, hingga memperbarui pengakuan:

رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ ﷺ نَبِيًّا

semuanya mengajarkan seorang muslim untuk menjadikan Allah sebagai tempat bergantung.

Semoga dzikir pagi dan petang tidak hanya menjadi bacaan yang diulang dengan lisan, tetapi menjadi amalan yang dihayati, dipahami, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.