Sa’id bin Zaid رضي الله عنه adalah salah satu sahabat Rasulullah ﷺ yang memiliki kedudukan sangat mulia. Namanya termasuk dalam daftar al-‘Asyarah al-Mubasysyarah bil Jannah, yaitu sepuluh sahabat yang mendapat kabar gembira tentang surga.
Nama Sa’id mungkin tidak sesering Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali رضي الله عنهم disebut dalam kisah sejarah Islam. Kendatipun begitu, kehidupannya menyimpan banyak pelajaran penting.
Ia dikenal sebagai seorang sahabat yang teguh dalam keimanan. Ia juga berani membela kebenaran dan sangat berhati-hati dalam urusan hak manusia.
Berikut kisah Sa’id bin Zaid رضي الله عنه dan beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari kehidupannya.
Siapa Sa’id bin Zaid رضي الله عنه?
Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail al-‘Adawi al-Qurasyi merupakan salah satu sahabat Rasulullah ﷺ.
Ia berasal dari Bani ‘Adi, salah satu kabilah Quraisy. Keluarganya juga memiliki hubungan dekat dengan keluarga ‘Umar bin al-Khattab رضي الله عنه.
Pada waktu itu, Sa’id sudah termasuk orang yang menerima Islam sejak masa awal dakwah Rasulullah ﷺ. Ia tidak hanya masuk Islam sendiri, tetapi juga menjalani ujian bersama keluarganya.
Sa’id menikah dengan Fathimah bint al-Khattab رضي الله عنها. Fathimah merupakan saudara perempuan ‘Umar bin al-Khattab رضي الله عنه.
Kedua pasangan ini telah memeluk Islam sebelum ‘Umar menerima Islam.
Ayah Sa’id bin Zaid Mencari Kebenaran
Salah satu bagian menarik dari kisah Sa’id adalah kehidupan ayahnya, Zaid bin ‘Amr bin Nufail.
Zaid hidup sebelum Rasulullah ﷺ menerima wahyu. Meskipun begitu, ia tidak menerima penyembahan berhala yang dilakukan masyarakat Quraisy.
Zaid bahkan menolak makanan yang dipersembahkan untuk berhala. Ia juga tidak mengikuti kebiasaan masyarakat Quraisy dalam menyembah sesuatu selain Allah.
Terdahulu, Zaid pernah melakukan perjalanan menuju Syam untuk mencari agama yang benar. Ia ingin mengetahui agama yang sesuai dengan ajaran tauhid.
Kisah Zaid menunjukkan bahwa pencarian terhadap kebenaran sudah menjadi bagian dari perjalanan keluarganya sebelum Islam datang melalui Rasulullah ﷺ.
Ia juga dikenal memiliki kepedulian terhadap bayi perempuan yang hendak dikubur hidup-hidup. Zaid berusaha menyelamatkan mereka dari kebiasaan jahiliah tersebut.
Zaid akhirnya meninggal sebelum Rasulullah ﷺ menerima wahyu.
Dengan pemikiran ini, kita dapat memahami bahwa Sa’id tumbuh dalam keluarga yang sudah memiliki sikap berbeda terhadap kemusyrikan Quraisy.
Sa’id dan Fathimah Menghadapi ‘Umar
Masuk Islam pada masa awal bukanlah sesuatu yang mudah.
Sa’id dan istrinya, Fathimah, menjadi bagian dari keluarga yang menghadapi tekanan karena memilih Islam. Salah satu tekanan tersebut datang dari ‘Umar bin al-Khattab رضي الله عنه yang ketika itu masih menentang dakwah Rasulullah ﷺ.
Sa’id sendiri pernah menceritakan bahwa ‘Umar mengikat dirinya dan Fathimah sebelum ‘Umar masuk Islam. Riwayat tersebut terdapat dalam Shahih al-Bukhari.
Contohnya, Sa’id tidak meninggalkan Islam ketika tekanan datang dari orang terdekatnya. Ia tetap mempertahankan keimanannya.
Kisah ini menjadi semakin menarik karena orang yang dahulu menentangnya kemudian menjadi salah satu sahabat terbesar Rasulullah ﷺ.
Kisah Masuk Islamnya ‘Umar bin al-Khattab
Kisah masuk Islamnya ‘Umar sangat terkenal di kalangan kaum Muslimin.
Versi panjang kisah tersebut sering menceritakan perjalanan ‘Umar menuju rumah Rasulullah ﷺ. Dalam perjalanan itu, ia mengetahui bahwa saudarinya, Fathimah, dan Sa’id telah memeluk Islam.
Kendatipun begitu, tidak semua bagian dari kisah panjang tersebut memiliki kekuatan riwayat yang sama.
Bagian yang kuat dalam Shahih al-Bukhari adalah pengakuan Sa’id bahwa ‘Umar pernah mengikat dirinya dan Fathimah sebelum masuk Islam. Adapun beberapa rincian lain yang sering muncul dalam kisah sirah memiliki sumber dan kekuatan sanad yang berbeda.
Karena itu, kita perlu membedakan antara riwayat yang kuat dan cerita sirah yang populer.
Setelah itu, ‘Umar akhirnya menerima Islam. Keislamannya menjadi salah satu peristiwa besar dalam sejarah dakwah Rasulullah ﷺ.
Ibn Mas‘ud رضي الله عنه bahkan menggambarkan bahwa kaum Muslimin mendapatkan kehormatan dan kekuatan setelah ‘Umar masuk Islam.
Sa’id Tidak Hadir dalam Perang Badar
Perang Badar merupakan salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah Islam.
Namun, Sa’id bin Zaid رضي الله عنه tidak hadir secara langsung dalam pertempuran tersebut. Rasulullah ﷺ menugaskan Sa’id bersama Talhah bin ‘Ubaidillah رضي الله عنه untuk mencari informasi tentang rombongan dagang Quraisy.
Berbeda dari anggapan bahwa ketidakhadiran di medan perang berarti tidak memiliki peran, tugas tersebut tetap merupakan bagian dari perjuangan kaum Muslimin.
Sa’id dan Talhah menjalankan tugas yang diberikan kepada mereka. Keduanya kemudian mendapatkan bagian dari ganjaran dan harta rampasan sebagaimana orang yang ikut dalam ekspedisi tersebut.
Catatan tentang pembagian ini terdapat dalam sumber-sumber biografi sahabat. Akan tetapi, urutan kejadian dan rincian riwayat dapat berbeda antara satu sumber dan sumber lainnya.
Karena itu, bagian ini sebaiknya dipahami dengan tetap memperhatikan sumber yang digunakan.
Sa’id Terus Mengikuti Perjuangan Kaum Muslimin
Setelah masa Badar, Sa’id terus berada dalam perjalanan dakwah Islam.
Ia ikut dalam berbagai peristiwa penting bersama kaum Muslimin. Sumber-sumber biografi menyebut keterlibatannya dalam Perang Uhud, Khandaq, dan beberapa peristiwa lainnya.
Berikutnya, kehidupan Sa’id tidak berhenti setelah Rasulullah ﷺ wafat.
Ia tetap menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim di bawah kepemimpinan Abu Bakr رضي الله عنه. Setelah itu, ia juga hidup pada masa pemerintahan ‘Umar dan ‘Utsman رضي الله عنهما.
Sa’id termasuk sahabat yang menyaksikan berbagai perubahan besar dalam sejarah umat Islam.
Sa’id dan Perluasan Wilayah Islam
Pada masa setelah Rasulullah ﷺ wafat, wilayah kaum Muslimin semakin luas.
Sumber-sumber sejarah dan biografi menyebut Sa’id dalam berbagai peristiwa perluasan wilayah Islam, termasuk perjuangan di wilayah Syam.
Ia juga dikaitkan dengan berbagai peristiwa di wilayah Damaskus.
Kendatipun begitu, rincian mengenai posisi administratif atau tugas pemerintahan Sa’id tidak memiliki kekuatan sumber yang sama dengan hadis-hadis yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari.
Karena itu, kita perlu berhati-hati ketika menyebut jabatan atau tugas tertentu yang dinisbatkan kepadanya.
Yang lebih jelas adalah bahwa Sa’id merupakan salah satu sahabat yang ikut dalam perjalanan panjang umat Islam setelah wafatnya Rasulullah ﷺ.
Sa’id Berani Membela ‘Utsman
Sa’id bin Zaid رضي الله عنه juga dikenal memiliki sikap yang kuat dalam menghadapi fitnah.
Pada masa terbunuhnya ‘Utsman bin ‘Affan رضي الله عنه, Sa’id berada di Kufah. Ia menyampaikan sikapnya terhadap pembunuhan ‘Utsman.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa Sa’id tidak mudah mengikuti suasana ketika terjadi konflik di tengah kaum Muslimin.
Dengan pemikiran ini, keberanian Sa’id bukan sekadar keberanian di medan perang.
Ia juga berani menyampaikan apa yang menurutnya benar ketika keadaan umat sedang penuh tekanan.
Sa’id dan Sengketa Tanah dengan Arwa
Salah satu kisah Sa’id yang sangat penting berkaitan dengan hak manusia adalah sengketanya dengan seorang perempuan bernama Arwa bint Uwais.
Arwa menuduh Sa’id telah mengambil sebagian tanah miliknya.
Sa’id membantah tuduhan tersebut. Ia kemudian menyampaikan hadis Rasulullah ﷺ tentang ancaman bagi orang yang mengambil tanah milik orang lain secara zalim.
Dalam Shahih al-Bukhari, Rasulullah ﷺ bersabda tentang orang yang mengambil sejengkal tanah secara zalim. Ancaman tersebut menunjukkan betapa seriusnya persoalan mengambil hak orang lain.
Contohnya, Sa’id yang telah mendapat kabar gembira tentang surga tetap sangat takut terhadap perkara yang berkaitan dengan hak manusia.
Ia tidak menganggap kedudukannya sebagai sahabat sebagai alasan untuk meremehkan tuduhan tersebut.
Takut kepada Kezaliman
Kisah sengketa tanah tersebut memberikan pelajaran yang sangat dalam.
Sa’id tidak menunjukkan sikap sombong ketika menghadapi tuduhan. Ia justru mengingatkan tentang ancaman Rasulullah ﷺ bagi orang yang mengambil tanah secara zalim.
Riwayat yang lebih panjang juga menceritakan bahwa Arwa kemudian mengalami kebutaan dan meninggal setelah jatuh ke dalam sebuah sumur. Namun, rincian panjang tersebut perlu dibedakan dari inti hadis yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari.
Seperti yang sudah dijelaskan, tidak semua bagian dalam kisah sejarah memiliki tingkat kekuatan yang sama.
Inti pelajarannya tetap jelas: hak manusia adalah perkara yang sangat serius.
Sa’id Termasuk Sepuluh Sahabat yang Dijamin Masuk Surga
Sa’id bin Zaid رضي الله عنه termasuk dalam hadis tentang sepuluh sahabat yang mendapat kabar gembira masuk surga.
Hadis tersebut diriwayatkan dalam Jami‘ at-Tirmidzi. Nama Sa’id disebut bersama Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Talhah, az-Zubair, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’d bin Abi Waqqash, Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah, dan Sa’id bin Zaid رضي الله عنهم.
Kedudukan tersebut tentu merupakan kemuliaan yang sangat besar.
Terutamanya, kabar dari Rasulullah ﷺ tentang surga merupakan sesuatu yang tidak dapat dibandingkan dengan penghargaan dunia.
Namun, kabar gembira tersebut bukan alasan untuk hidup tanpa rasa takut kepada Allah.
Jaminan Surga Bukan Alasan untuk Lalai
Sa’id bin Zaid رضي الله عنه adalah contoh bahwa orang yang mendapat kabar gembira tentang surga tetap menjalani kehidupan dengan iman dan tanggung jawab.
Ia tetap menghadapi ujian. Ia tetap berjuang. Ia juga tetap berhati-hati dalam perkara yang berkaitan dengan hak manusia.
Kedua, jaminan surga tidak berarti seseorang boleh meremehkan dosa.
Justru, kehidupan Sa’id menunjukkan sikap takut kepada Allah. Ia tidak menggunakan kedudukannya untuk merendahkan orang lain.
Hal tersebut penting untuk kita pahami dalam kehidupan sehari-hari.
Kadang-kadang seseorang merasa sudah melakukan banyak kebaikan. Akibatnya, ia menjadi kurang hati-hati terhadap dosa yang terlihat kecil.
Kisah Sa’id mengajarkan bahwa seorang Muslim tetap perlu menjaga hati dan amalnya.
Pelajaran dari Kehidupan Sa’id bin Zaid رضي الله عنه
Kisah Sa’id bukan hanya cerita sejarah. Ada banyak pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan kita.
1. Jangan Menunggu Semua Orang Setuju
Sa’id memeluk Islam pada masa awal dakwah Rasulullah ﷺ.
Pada waktu itu, jumlah kaum Muslimin masih sedikit. Tekanan dari Quraisy juga sangat besar.
Berikut, kita dapat belajar untuk tidak menjadikan jumlah orang sebagai ukuran kebenaran.
Jika sesuatu benar berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, kita tidak perlu menunggu semua orang menyetujuinya.
2. Tetap Teguh Ketika Mendapat Tekanan
Sa’id dan Fathimah menghadapi tekanan dari ‘Umar sebelum ia masuk Islam.
Mereka tidak meninggalkan Islam hanya karena mendapat tekanan dari keluarga.
Contohnya, seseorang mungkin mendapatkan tekanan ketika berusaha memperbaiki ibadah atau meninggalkan kebiasaan buruk.
Dalam keadaan seperti itu, keteguhan sangat dibutuhkan.
3. Jangan Meremehkan Orang yang Tidak Banyak Bicara
Nama Sa’id mungkin tidak sepopuler beberapa sahabat lainnya.
Berbeda dari sahabat yang sering menjadi pusat perhatian, Sa’id menjalani banyak bagian hidupnya dengan tenang.
Namun, ketenangan tersebut bukan berarti ia tidak memiliki keberanian.
Ia tetap menjadi bagian dari perjuangan Islam. Ia juga memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah.
Karena itu, kita tidak seharusnya menilai seseorang hanya dari seberapa sering namanya dikenal.
4. Amanah dalam Urusan Hak Manusia
Sengketa tanah dengan Arwa memberikan pelajaran penting tentang amanah.
Sa’id sangat berhati-hati dalam persoalan tanah dan hak milik.
Terutamanya, perkara yang berkaitan dengan hak manusia tidak boleh dianggap ringan.
Seorang Muslim harus berhati-hati ketika menggunakan barang, uang, tanah, atau hak milik orang lain.
5. Takut kepada Kezaliman
Sa’id mengetahui kedudukan dirinya sebagai sahabat Rasulullah ﷺ.
Namun, ia tetap menunjukkan rasa takut terhadap kezaliman.
Dengan pemikiran ini, kita dapat memahami bahwa semakin tinggi ilmu dan kedudukan seseorang, seharusnya semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah.
6. Jangan Menjawab Tuduhan dengan Kesombongan
Ketika menghadapi tuduhan Arwa, Sa’id tidak menjadikan kedudukannya sebagai alasan untuk meremehkannya.
Ia justru mengingatkan tentang sabda Rasulullah ﷺ.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa menyelesaikan masalah tidak harus dilakukan dengan emosi.
Kendatipun begitu, membela diri tetap diperbolehkan ketika seseorang dituduh melakukan sesuatu yang tidak ia lakukan.
7. Keberanian Tidak Sama dengan Kekerasan
Sa’id merupakan seorang yang berani.
Namun, keberanian tidak berarti seseorang harus keras kepada semua orang.
Contohnya, seseorang dapat tegas dalam mempertahankan kebenaran tanpa merendahkan orang lain.
Keberanian yang baik tetap membutuhkan ilmu, kesabaran, dan akhlak.
8. Keluarga Memiliki Peran Besar
Kisah keluarga Sa’id juga memberikan pelajaran tentang pentingnya prinsip dalam keluarga.
Ayahnya, Zaid bin ‘Amr, sudah menunjukkan sikap menolak kemusyrikan sebelum Islam datang.
Sa’id kemudian menjadi salah satu sahabat Rasulullah ﷺ yang menerima Islam sejak awal.
Seperti yang sudah dijelaskan, perjalanan seseorang tidak terlepas dari lingkungan dan nilai yang ia lihat sejak kecil.
Karena itu, keluarga memiliki peran besar dalam menanamkan nilai tauhid dan keberanian mencari kebenaran.
9. Jangan Mengejar Popularitas
Sa’id bukan sahabat yang paling sering disebut dalam pembahasan sejarah.
Kendatipun begitu, Allah memberikan kepadanya kedudukan yang sangat mulia.
Hal ini mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan bukanlah seberapa terkenal nama kita di hadapan manusia.
Yang lebih penting adalah bagaimana kedudukan kita di sisi Allah.
10. Carilah Ridha Allah, Bukan Sekadar Pujian Manusia
Kisah Sa’id mengajarkan kita untuk tidak menjadikan pujian manusia sebagai tujuan utama.
Ia menjalani hidup sebagai seorang Muslim yang beriman dan berusaha menjaga amanah.
Berikut prinsip sederhana yang dapat kita bawa dalam kehidupan:
Tidak semua kebaikan harus diketahui manusia.
Ada amal yang cukup diketahui oleh Allah. Ada perjuangan yang mungkin tidak mendapat pujian. Namun, semuanya tetap bernilai jika dilakukan dengan ikhlas.
Wafatnya Sa’id bin Zaid رضي الله عنه
Sa’id bin Zaid رضي الله عنه wafat pada sekitar tahun 50, 51, atau 52 Hijriah.
Riwayat tentang tempat dan waktu wafatnya memiliki beberapa perbedaan dalam sumber sejarah.
Ia disebut wafat di wilayah al-‘Aqiq, kemudian jenazahnya dibawa ke Madinah.
Pada waktu itu, Sa’d bin Abi Waqqash dan Ibn ‘Umar رضي الله عنهما disebut hadir dalam peristiwa tersebut.
Sa’id wafat dalam usia sekitar awal 70-an.
Perjalanan hidupnya pun berakhir setelah melewati masa Rasulullah ﷺ, Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, hingga awal masa pemerintahan Mu‘awiyah رضي الله عنهم.
Penutup
Sa’id bin Zaid رضي الله عنه mungkin tidak selalu menjadi nama pertama yang muncul ketika kita membicarakan para sahabat Rasulullah ﷺ.
Namun, kisahnya menyimpan banyak pelajaran.
Ia termasuk orang yang menerima Islam sejak awal. Ia menghadapi tekanan. Ia ikut dalam perjalanan panjang umat Islam. Ia juga menjaga sikap ketika menghadapi persoalan hak manusia.
Terutamanya, Sa’id menunjukkan bahwa seorang Muslim tidak boleh merasa aman hanya karena memiliki kedudukan yang baik.
Ia tetap perlu menjaga iman, menjauhi kezaliman, dan berhati-hati terhadap hak orang lain.
Kabar gembira tentang surga yang diberikan Rasulullah ﷺ kepadanya bukan membuat Sa’id hidup tanpa rasa takut. Sebaliknya, kehidupannya menunjukkan keteguhan, tanggung jawab, dan kehati-hatian.
Dengan pemikiran ini, kisah Sa’id bin Zaid رضي الله عنه mengajak kita untuk melihat kembali kehidupan kita sendiri.
Apakah kita tetap teguh ketika tidak ada yang mendukung?
Apakah kita masih menjaga amanah ketika tidak ada yang melihat?
Apakah kita takut mengambil hak orang lain?
Dan yang paling penting, apakah kita menjalani hidup untuk mencari ridha Allah?
Itulah beberapa pelajaran besar dari kehidupan Sa’id bin Zaid رضي الله عنه, sahabat Rasulullah ﷺ yang mendapat kabar gembira tentang surga.
Sumber
Artikel ini mempertahankan pembagian antara riwayat yang kuat dan informasi dari kitab sejarah atau biografi, sebagaimana terdapat dalam naskah sumber.
Beberapa sumber utama yang digunakan adalah:
- Shahih al-Bukhari 3862 — riwayat tentang Sa’id yang mengalami tekanan dari ‘Umar sebelum ‘Umar masuk Islam.
- Shahih al-Bukhari 3198 — kisah sengketa tanah dengan Arwa dan hadis tentang mengambil tanah secara zalim.
- Jami‘ at-Tirmidzi 3748 — hadis tentang sepuluh sahabat yang mendapat kabar gembira tentang Surga.
- Shahih al-Bukhari 3826–3828 — riwayat tentang Zaid bin ‘Amr bin Nufail yang mencari agama Ibrahim dan menolak penyembahan berhala.
- Kitab-kitab biografi klasik, seperti Siyar A‘lam an-Nubala, digunakan untuk membantu menjelaskan kronologi dan informasi yang tidak tersedia secara lengkap dalam hadis shahih.




