Oleh: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan sosok teladan yang baik. Karena itu, seorang muslim perlu mengetahui perjalanan hidup beliau, sejak kelahiran hingga wafat. Mempelajari sirah Nabi merupakan perkara yang sangat penting bagi umat Islam karena beliau adalah perantara sekaligus penafsir Al-Qur’an melalui perkataan dan perbuatan beliau.
Tidak mungkin seseorang dapat memahami ajaran Islam secara sempurna tanpa mengetahui kehidupannya. Sirah Nabi memberikan gambaran nyata tentang bagaimana ajaran Islam diterapkan dalam berbagai sisi kehidupan.
Oleh karena itu, kaum muslimin sejak masa awal perkembangan Islam telah memberikan perhatian besar terhadap sirah nabi. Mereka merekam berbagai kejadian yang berlangsung pada masa kehidupan beliau dan berusaha menukilkannya secara teliti dan akurat, baik melalui kitab-kitab hadits, kitab sirah, maupun kitab-kitab sejarah secara umum.
Sejarah atau sirah nabiwiyyah merupakan bidang ilmu yang penting untuk dipelajari oleh kaum muslimin, baik dahulu maupun sekarang. Sirah Nabi merupakan gambaran konkret dari penerapan syariat Allah dan penjelasan terhadap hukum-hukumnya.
Karena pentingnya hal tersebut, para ulama Islam memberikan perhatian besar dalam mempelajari, meneliti, dan menulis berbagai kitab serta referensi tentang kehidupan Nabi Muhammad dengan beragam metode penulisan dan penelitian.
Pengertian Sirah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Untuk memahami sirah Nabi dengan benar, diperlukan pengertian yang tepat mengenai istilah tersebut.
Sirah Nabi adalah kumpulan berita yang diriwayatkan atau dikisahkan mengenai perjalanan kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pembahasannya mencakup berbagai fase kehidupan beliau, mulai dari nasab, keadaan beliau ketika berada dalam kandungan, kelahiran, masa pemeliharaan, masa kecil, masa remaja, hingga masa dewasa.
Sirah Nabi juga membahas pengangkatan beliau sebagai Nabi, turunnya wahyu, permulaan dakwah, perjalanan dakwah di Makkah, hijrah ke Madinah, pembentukan masyarakat dan negara di Madinah, serta perjuangan beliau dalam membela dan menyebarkan dakwah Islam.
Selain itu, sirah mencakup berbagai peperangan penting, pengiriman duta dan utusan, kepemimpinan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, perkembangan dakwah Islam di Jazirah Arab dan wilayah lainnya, hingga sakit, wafat, dan proses perawatan jenazah beliau.
Dengan demikian, sirah Nabi tidak hanya membahas peristiwa sejarah, tetapi juga menggambarkan berbagai sisi kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat menjadi pelajaran bagi umat Islam.
Target dan Faedah Mempelajari Sirah Nabi
Mempelajari sirah Nabi memiliki banyak manfaat. Di antara tujuan dan faedah mempelajari sirah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut.
1. Memahami Penerapan Hukum Islam
Mempelajari sirah Nabi membantu seseorang mendapatkan gambaran konkret mengenai penerapan hukum-hukum Islam yang terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai bidang kehidupan.
2. Meneladani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Untuk dapat mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seseorang perlu mengetahui sifat, akhlak, dan kehidupan beliau dalam berbagai keadaan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan teladan bagi orang-orang yang beriman.
3. Menumbuhkan Kecintaan kepada Rasulullah
Mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan tanda kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورُُ رَّحِيمُ
“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Ali ‘Imran: 31)
Dengan mempelajari sirah Nabi, seorang muslim dapat mengenal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lebih baik sehingga kecintaan kepada beliau semakin tumbuh.
4. Mengetahui Mukjizat Rasulullah
Sirah Nabi memberikan kesempatan untuk mengenal berbagai mukjizat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pengetahuan tersebut dapat menguatkan dan menambah keimanan.
5. Menguatkan Keteguhan Kaum Mukminin
Dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat berbagai ujian, cobaan, dan tantangan dalam berdakwah. Mempelajari sikap beliau dalam menghadapi keadaan tersebut dapat menguatkan keteguhan kaum mukminin dalam membela agama dan kebenaran.
Memberikan ketenangan kepada hati melalui berbagai contoh keimanan dan kekuatan akidah Nabi Kita dalam menghadapi cobaan dan musuh-musuhnya.
6. Mengambil Pelajaran dan Hikmah
Mengandung banyak pelajaran, nasihat, dan hikmah yang dapat diambil oleh seluruh kaum muslimin, baik penguasa maupun rakyat.
7. Mengenal Keteladanan Rasulullah
Sirah Nabi jugta menggambarkan kehidupan seorang manusia yang dimuliakan Allah sebagai Rasul. Kehidupan beliau dapat menjadi contoh dalam berbagai keadaan dan peran kehidupan.
8. Mendapatkan Pelajaran dalam Menghadapi Ujian
Berbagai peristiwa dalam kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pelajaran bagi manusia dalam menghadapi cobaan dan ujian hidup, terlebih bagi para dai yang menghadapi berbagai tantangan dalam menyampaikan kebenaran.
9. Membantu Memahami Al-Qur’an dan Sunnah
Mempelajari sirah Nabi membantu seseorang memahami konteks berbagai ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
10. Menambah Pengetahuan tentang Ilmu Keislaman
Sirah Nabi berkaitan dengan berbagai cabang ilmu Islam, seperti akidah, syariat, akhlak, tafsir, hadits, politik, pendidikan, dan kehidupan sosial kemasyarakatan.
11. Mengenal Perkembangan Dakwah Islam
Melalui sirah, seorang muslim dapat mengetahui perkembangan dakwah Islam serta perjuangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat dalam menegakkan kalimat Allah.
12. Mengetahui Sebab Turunnya Ayat
Mempelajari sirah juga membantu mengenal sebab turunnya sejumlah ayat Al-Qur’an serta kaitannya dengan ucapan dan peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
13. Mengenal Nasikh dan Mansukh
Sirah Nabi juga dapat membantu seseorang dalam memahami pembahasan nasikh dan mansukh dalam Al-Qur’an dan hadits.
14. Mengenal Mukjizat Rasulullah
Melalui sirah Nabi, seorang muslim dapat mengetahui berbagai mukjizat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
15. Menanamkan Kecintaan kepada Rasulullah
Salah satu tujuan penting mempelajari sirah Nabi adalah menanamkan kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengenal kehidupan, perjuangan, akhlak, dan keteladanan beliau.
Keistimewaan Sirah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Memiliki berbagai keistimewaan sehingga sangat penting untuk dipelajari dan ditelaah.
Sirah Nabi juga menjadi salah satu ilmu yang penting bagi ulama, dai, dan orang-orang yang memiliki perhatian terhadap perbaikan umat. Dengan mempelajari gaya dan metode dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seseorang dapat mengambil pelajaran dalam menjalankan dakwah sesuai dengan tuntunan Islam.
Di antara keistimewaan sirah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut.
1. Memiliki Riwayat yang Sangat Terjaga
Sirah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan sejarah kehidupan seorang nabi yang sampai kepada umat Islam melalui berbagai jalur periwayatan.
Hal ini memberikan kemudahan bagi kaum muslimin untuk meneliti berbagai peristiwa yang berkaitan dengan kehidupan beliau.
Berbeda dengan sebagian kisah sejarah para nabi terdahulu yang mengalami perubahan dan pencampuran riwayat, sirah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki sumber-sumber yang dapat diteliti berdasarkan metode periwayatan yang dikembangkan para ulama Islam.
2. Kehidupan Rasulullah Sangat Jelas dalam Berbagai Fase
Kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat dipelajari melalui berbagai fase, mulai dari kelahiran, masa kecil, masa remaja, kehidupan sebelum kenabian, masa setelah diangkat menjadi Nabi dan Rasul, hingga wafatnya beliau.
Kejelasan berbagai fase tersebut membuat kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat dipelajari secara lebih terperinci.
3. Menggambarkan Kehidupan Seorang Rasul sebagai Manusia
Menggambarkan kehidupan seorang manusia yang dimuliakan Allah sebagai Rasul tanpa mengeluarkan beliau dari sifat kemanusiaannya.
Dengan demikian, kehidupan beliau dapat menjadi teladan yang nyata bagi manusia dalam menjalani berbagai keadaan kehidupan.
4. Mencakup Berbagai Sisi Kehidupan
Mencakup berbagai sisi kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Menceritakan kehidupan beliau ketika masih muda sebelum menjadi Nabi, perjalanan beliau sebagai pembawa dakwah, sebagai pemimpin, sebagai kepala rumah tangga, sebagai pendidik, serta dalam berbagai peran lainnya.
Ringkasnya, sirah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencakup kehidupan sosial dan kemanusiaan secara luas sehingga beliau dapat menjadi teladan bagi dai, panglima, bapak, suami, teman, pendidik, pemimpin, dan berbagai peran kehidupan lainnya.
5. Menunjukkan Kebenaran Risalah
Diantara sirah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan berbagai tanda yang menunjukkan kebenaran risalah dan kenabian beliau.
Sumber Pengambilan Sirah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Sirah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hakikatnya berkaitan erat dengan risalah yang beliau bawa kepada manusia. Karena itu, sirah perlu dipelajari melalui sumber yang benar, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sumber-sumber yang menjadi rujukan para ulama dalam menjelaskan sirah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat digolongkan menjadi delapan sumber utama.
1. Al-Qur’an
Al-Qur’an mengandung banyak kisah dan peristiwa yang berkaitan dengan kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik pada masa Makkah maupun Madinah.
Al-Qur’an menceritakan keadaan beliau ketika masih kecil, termasuk keadaan beliau sebagai seorang yatim dan dalam kondisi kekurangan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَئَاوَى وَوَجَدَكَ ضَآلاًّ فَهَدَى وَوَجَدَكَ عَآئِلاً فَأَغْنَى
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung lalu Dia memberikan petunjuk? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan lalu Dia memberikan kecukupan?”
(QS. Adh-Dhuha: 6–8)
Al-Qur’an juga menceritakan permulaan turunnya wahyu:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ ابِالْقَلَمِ عَلَّمَ اْلإِنسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS. Al-‘Alaq: 1–5)
Al-Qur’an juga menyebutkan peristiwa Isra:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ اْلأَقْصَا الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَآ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjid Al-Haram ke Al-Masjid Al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(QS. Al-Isra: 1)
Demikian pula peristiwa hijrah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu disebutkan dalam firman Allah:
إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْهُمَا فِي الْغَارِ إِذْيَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَتَحْزَنْ إِنَّ اللهَ مَعَنَا...
“Jikalau tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya...”
(QS. At-Taubah: 40)
Al-Qur’an juga mengisahkan berbagai peristiwa pada masa dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, termasuk perang Ahzab.
Salah satunya terdapat dalam firman Allah:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَآءَتْكُمْ جُنُودٌ...
“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara...”
(QS. Al-Ahzab: 9–22)
Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih sempurna terhadap ayat-ayat tersebut, diperlukan rujukan kepada kitab-kitab tafsir yang terpercaya, termasuk tafsir yang menjelaskan riwayat-riwayat dalam menafsirkan ayat Al-Qur’an.
2. Kitab-Kitab Hadits
Kitab-kitab hadits merupakan sumber penting dalam mempelajari sirah Nabi karena di dalamnya terdapat kumpulan ucapan, perbuatan, persetujuan, serta sifat-sifat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik sifat fisik maupun akhlak.
Hadits juga menggambarkan kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehari-hari sehingga memiliki hubungan yang sangat erat dengan pembahasan sirah.
Di antara kitab hadits yang penting dalam mempelajari sirah adalah Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Jami’ At-Tirmidzi, Sunan Abi Dawud, Musnad Ahmad, Sunan An-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, dan Mushannaf Ibnu Abi Syaibah.
Imam Bukhari memberikan perhatian besar terhadap sejarah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui berbagai kitab dan bab yang membahas kehidupan beliau sebelum dan sesudah diutus sebagai Nabi dan Rasul, peperangan, delegasi, surat-menyurat, keutamaan para sahabat, serta istri-istri beliau.
Demikian pula Imam Muslim mencantumkan berbagai riwayat yang berkaitan dengan sirah dalam kitab Shahih Muslim.
3. Kitab-Kitab Syama’il
Kitab-kitab syama’il merupakan kitab yang membahas sifat-sifat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kitab-kitab ini penting untuk melengkapi pembahasan sirah karena menjelaskan karakteristik dan sifat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Di antara karya yang terkenal adalah Syama’il Muhammadiyah karya Imam At-Tirmidzi. Selain itu terdapat pula karya Imam Al-Baghawi tentang syama’il Nabi.
Namun, dalam kitab-kitab syama’il terdapat riwayat dengan kualitas yang beragam sehingga diperlukan penelitian terhadap keabsahan hadits yang digunakan.
4. Kitab-Kitab Dala’il An-Nubuwwah
Kitab-kitab Dala’il An-Nubuwwah ditulis untuk menjelaskan bukti-bukti kenabian dan berbagai mukjizat yang terjadi pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Di antara karya dalam bidang ini adalah Dala’il An-Nubuwwah karya Abu Nu’aim Al-Ashbahani dan Dala’il An-Nubuwwah karya Al-Baihaqi. Imam As-Suyuthi juga menulis Al-Khashaish Al-Kubra.
Kitab-kitab tersebut dapat menjadi sumber dalam mempelajari sirah, dengan tetap memperhatikan penelitian terhadap riwayat yang terdapat di dalamnya.
5. Kitab-Kitab Maghazi dan Sirah
Kitab-kitab maghazi dan sirah membahas berbagai peperangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pengiriman saraya, tahapan dakwah, serta berbagai peristiwa yang berkaitan dengan perjalanan dakwah beliau.
Kitab-kitab tersebut menjadi referensi penting dalam mempelajari sirah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Para ulama telah memberikan perhatian terhadap penulisan sirah sejak abad-abad awal Hijriyah. Di antara nama-nama yang dikenal dalam periwayatan dan penulisan sirah adalah Urwah bin Az-Zubair, Az-Zuhri, Musa bin Uqbah, Muhammad bin Ishaq, Al-Waqidi, Ibnu Sa’ad, dan ulama lainnya.
Sebagian karya mereka sampai kepada generasi berikutnya dalam bentuk kitab, sedangkan sebagian lainnya sampai melalui riwayat yang dikutip oleh ulama setelah mereka.
Di antara penulis sirah yang paling terkenal adalah Ibnu Ishaq, Al-Waqidi, dan Ibnu Sa’ad.
Ibnu Ishaq memiliki perhatian besar terhadap penyusunan sirah, di antaranya dengan mengurutkan kejadian berdasarkan waktu, mengumpulkan berbagai berita yang sampai kepadanya mengenai suatu peristiwa, serta menyusunnya dalam penyampaian yang luas.
Kemudian karya tersebut mendapatkan perhatian dari Ibnu Hisyam yang menyusun kembali materi sirah sehingga menjadi salah satu rujukan yang dikenal luas dalam kajian sejarah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
6. Kitab Sejarah Makkah dan Madinah
Para ulama juga menulis kitab-kitab khusus mengenai sejarah dua kota suci, yaitu Makkah dan Madinah.
Kitab-kitab tersebut membahas sejarah kedua kota tersebut sebelum dan sesudah Islam sehingga membantu dalam memahami berbagai peristiwa yang berkaitan dengan kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Di antara karya yang disebutkan dalam pembahasan ini adalah kitab-kitab tentang sejarah Makkah dan Madinah yang ditulis oleh para ulama dari berbagai generasi.
Kitab-kitab tersebut dapat menjadi referensi penting dalam memahami latar belakang tempat dan peristiwa yang terdapat dalam sirah Nabi.
7. Kitab-Kitab Sejarah Umum
Kitab-kitab sejarah umum membahas sejarah umat manusia, negara, dan berbagai tokoh dari masa sebelum Islam hingga masa kehidupan penulisnya.
Di antara karya yang disebutkan adalah Tarikh Al-Umam wa Ar-Rusul wa Al-Muluk karya Ibnu Jarir Ath-Thabari, Tarikh Khalifah bin Khayyath, Futuh Al-Buldan karya Al-Baladzuri, dan berbagai karya sejarah lainnya.
Kitab-kitab tersebut menjadi referensi tambahan karena mencatat berbagai peristiwa sejarah secara umum yang dapat membantu dalam memahami konteks kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
8. Kitab-Kitab Sastra Arab
Kitab-kitab sastra Arab juga menjadi referensi pelengkap dalam mempelajari sirah Nabi.
Di dalamnya terdapat syair dan berbagai karya sastra yang menggambarkan keadaan masyarakat Arab serta berbagai peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sekitarnya.
Di antara karya tersebut adalah Al-Aghani, Al-Kamil fi Al-Lughah wal Adab, dan beberapa karya sastra Arab lainnya.
Dengan demikian, berbagai sumber tersebut dapat membantu memberikan gambaran yang lebih luas tentang kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, setiap berita tetap perlu diteliti keabsahan dan kekuatannya.
Bagaimana Memahami Sirah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?
Seseorang yang ingin memahami sirah Nabi dengan benar perlu mempelajari, merenungkan, dan meneliti sumber-sumber sirah dengan memperhatikan metode penulisan yang digunakan para ulama.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Meyakini As-Sunnah sebagai Wahyu
Seorang muslim perlu meyakini bahwa As-Sunnah An-Nabawiyah merupakan wahyu dari Allah Ta’ala dan sirah memiliki hubungan yang erat dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَلاَ إِنِّيْ أُوْتِيْتُ الْقُرْآنَ وَ مِثْلَهُ مَعَهُ
“Ketahuilah bahwa diturunkan kepadaku Al-Qur’an dan yang semisalnya bersamanya.”
2. Memahami Rasulullah sebagai Utusan Allah
Ketika mempelajari perjalanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memperbaiki umat manusia, kita tidak melihat beliau sekadar sebagai pembaharu sosial yang mengandalkan kemampuan dan kepakarannya.
Beliau adalah seorang Rasul yang diutus Allah dengan membawa wahyu. Karena itu, kehidupan dan dakwah beliau berada di bawah bimbingan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
3. Memahami Sirah secara Menyeluruh
Sirah Nabi perlu dipahami sebagai gambaran kehidupan yang komprehensif. Pembahasannya tidak hanya terbatas pada peperangan atau perjalanan dakwah, tetapi mencakup berbagai sisi kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
4. Mengambil Pelajaran dari Sirah
Tujuan mempelajari sirah bukan sekadar mengetahui rangkaian peristiwa sejarah, tetapi juga mengambil faedah dan pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan.
Metode Mempelajari Sirah Nabi
Dalam mempelajari sirah Nabi diperlukan metode yang sesuai dengan prinsip Islam dan metodologi para ahli hadits dalam menilai berbagai riwayat.
Salah satu metode penting yang digunakan para ulama adalah kritik dan pembuktian kebenaran berita.
Metode tersebut dilakukan dengan memperhatikan sanad dan matan suatu riwayat untuk mengetahui keotentikan dan keakuratan berita.
1. Penelitian dan Kritik Sanad atau Isnad
Isnad atau sanad adalah rangkaian para periwayat yang menyampaikan suatu berita dari satu perawi kepada perawi berikutnya hingga sampai kepada sumber berita yang diriwayatkan.
Dalam ilmu Islam, sanad memiliki kedudukan penting karena melalui sanad dapat diketahui siapa saja yang menyampaikan suatu berita sehingga memungkinkan dilakukannya penelitian terhadap kualitas berita tersebut.
Sanad yang bersambung dan memenuhi persyaratan kesahihan memberikan dasar yang lebih kuat dalam menerima suatu riwayat.
Melalui sanad, para ulama dapat meneliti sifat para perawi, kesinambungan periwayatan, serta berbagai aspek lain yang berkaitan dengan keabsahan sebuah berita.
Tujuan penelitian sanad adalah memastikan keotentikan riwayat serta menghindarkan umat dari berita yang tidak benar, palsu, atau tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam bidang sirah Nabi, penelitian sanad membantu para ulama dalam melacak kebenaran suatu riwayat. Karena itu, para ulama sejak generasi awal memberikan perhatian besar terhadap pengumpulan, penelitian, dan penulisan sanad.
Penelitian tersebut dilakukan melalui dua aspek.
Pertama, aspek teoritis, yaitu penyusunan kaidah-kaidah yang dapat digunakan untuk mengetahui adanya kedustaan atau kelemahan dalam suatu riwayat.
Kedua, aspek praktis, yaitu penjelasan mengenai para perawi, biografi mereka, serta penilaian terhadap kualitas masing-masing perawi.
Di antara syarat penting dalam penerimaan periwayatan adalah:
- Al-‘Adalah, yaitu perawi memiliki sifat adil, muslim, baligh, berakal, jujur, terbebas dari kefasikan, serta menjaga kehormatan dirinya.
- Adh-Dhabt, yaitu perawi memiliki kemampuan dalam menjaga dan menguasai riwayat yang disampaikannya, baik melalui hafalan maupun catatan.
Dengan penelitian tersebut, para ulama dapat memilah riwayat yang kuat dan riwayat yang lemah serta memberikan penilaian terhadap berita yang berkaitan dengan sejarah Islam dan sirah Nabi.
2. Kritik dan Penelitian Matan
Selain sanad, para ulama juga memberikan perhatian besar terhadap penelitian matan.
Secara bahasa, matan bermakna sesuatu yang keras, terjal, atau mencuat dari tanah. Sedangkan secara istilah, matan merupakan teks atau isi berita yang berada pada akhir sanad pada umumnya.
Studi matan berarti mempelajari teks suatu riwayat dari berbagai sisi. Di antaranya dengan melihat kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip syariat, kaidah yang telah pasti, keadaan zaman ketika peristiwa berlangsung, tradisi masyarakat, fakta sejarah yang telah valid, serta kemungkinan atau kemustahilan suatu informasi.
Penelitian matan juga mencakup pemahaman terhadap makna suatu nash, kandungan hukum, makna bahasa, serta lafaz yang digunakan.
Dalam penelitian hadits dan sumber-sumber sirah, para ulama tidak hanya memfokuskan perhatian pada sanad. Sebaliknya, penelitian juga dilakukan terhadap matan atau teks riwayat.
Sanad yang lemah tidak selalu berarti bahwa matannya pasti lemah karena bisa jadi terdapat jalur periwayatan lain yang menguatkannya. Sebaliknya, sanad yang tampak kuat juga tetap dapat diteliti dari sisi matannya apabila terdapat indikasi pertentangan dengan riwayat yang lebih kuat atau terdapat ‘illat tertentu.
Karena itu, penelitian terhadap sanad dan matan merupakan bagian penting dalam menjaga keakuratan berita yang berkaitan dengan hadits, tarikh, dan khususnya sirah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Penutup
Mempelajari sirah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan sekadar mempelajari sejarah kehidupan seorang tokoh. Sirah memberikan gambaran tentang perjalanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menjalankan risalah, berdakwah, mendidik umat, menghadapi berbagai ujian, memimpin masyarakat, serta menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan.
Karena itu, mempelajari sirah Nabi perlu dilakukan melalui sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan serta dengan memperhatikan keabsahan riwayat. Dengan cara tersebut, seorang muslim diharapkan dapat mengenal kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lebih baik, mengambil pelajaran dari perjalanan beliau, serta semakin mencintai dan mengikuti sunnahnya.
Sumber Artikel
Artikel ini bersumber dari tulisan “Mengenal Sirah (Sejarah) Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam” oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc., yang dimuat di Al-Manhaj.
Sumber asli: Mengenal Sirah (Sejarah) Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam – Al-Manhaj




