
Islam mengajarkan kita untuk saling membantu. Namun, bantuan yang diberikan tidak boleh mengarah pada keburukan.
Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Sebaliknya, kita dilarang bekerja sama dalam dosa dan permusuhan.
Pesan tersebut terdapat dalam QS Al-Ma’idah ayat 2. Ayat ini mengajarkan bahwa hubungan kita dengan orang lain juga harus dilandasi oleh iman dan ketakwaan.
Perintah untuk Saling Menolong dalam Kebaikan
Allah berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.”
QS Al-Ma’idah [5]: 2
Ayat ini memberikan pedoman yang jelas dalam kehidupan bersama.
Kita tidak hidup sendirian. Ada keluarga, teman, tetangga, rekan kerja, dan orang-orang yang kita temui setiap hari.
Karena itu, sudah seharusnya kita saling membantu dalam perkara yang membawa kebaikan.
Contohnya, kita dapat membantu seseorang memahami ilmu agama. Kita juga dapat mengingatkan teman untuk melaksanakan salat atau membantu orang yang sedang mengalami kesulitan.
Hal-hal sederhana tersebut dapat menjadi bentuk tolong-menolong dalam kebaikan.
Kebaikan Tidak Harus Selalu Berupa Hal Besar
Terkadang kita mengira bahwa membantu orang lain harus dilakukan dengan sesuatu yang besar.
Padahal, kebaikan dapat dimulai dari hal yang sederhana.
Memberikan waktu untuk mendengarkan seseorang yang sedang kesulitan juga dapat menjadi bentuk kepedulian. Membantu pekerjaan orang lain ketika mereka kewalahan pun termasuk perbuatan baik.
Selain itu, mengajarkan ilmu yang bermanfaat juga dapat menjadi bentuk pertolongan.
Bahkan, mengingatkan seseorang dengan cara yang baik dapat membantu mereka kembali kepada jalan yang benar.
Dengan demikian, kita tidak perlu menunggu sampai memiliki banyak harta atau kemampuan besar untuk berbuat baik.
Tolong-Menolong Juga Harus Disertai Takwa
Allah tidak hanya menyebutkan tentang kebajikan. Ayat tersebut juga menyebutkan takwa.
Takwa berarti berusaha menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Karena itu, bentuk bantuan yang kita berikan juga perlu memperhatikan aturan Allah.
Kedua, niat baik saja tidak cukup jika cara yang digunakan justru melanggar syariat.
Misalnya, seseorang ingin membantu temannya mendapatkan keuntungan. Namun, cara yang digunakan adalah dengan menipu orang lain.
Bantuan seperti itu tidak termasuk bentuk tolong-menolong dalam kebaikan.
Sebaliknya, kita perlu memastikan bahwa tujuan dan cara yang digunakan sama-sama baik.
Jangan Saling Membantu dalam Dosa
Selain memerintahkan kebaikan, Allah juga memberikan peringatan.
Kita dilarang saling membantu dalam dosa dan permusuhan.
Berbeda dari kebaikan yang membawa manfaat, kerja sama dalam dosa justru dapat menambah keburukan.
Contohnya, seseorang mengetahui temannya melakukan kesalahan. Namun, ia justru membantu menyembunyikan kesalahan tersebut.
Contoh lainnya adalah ketika seseorang diajak melakukan perbuatan yang dilarang agama. Ia mungkin merasa tidak enak untuk menolak karena yang mengajak adalah teman dekat.
Padahal, menjaga hubungan tidak berarti harus mengikuti semua ajakan.
Jika sebuah ajakan membawa kepada dosa, kita perlu berani mengatakan tidak.
Jangan Biarkan Kebencian Mendorong Kita Berbuat Zalim
Ada pelajaran lain yang sangat penting dalam QS Al-Ma’idah ayat 2.
Allah mengingatkan agar kebencian kepada suatu kaum tidak membuat seseorang melampaui batas.
Artinya, perasaan tidak suka kepada seseorang tidak boleh menjadi alasan untuk berbuat zalim.
Kendatipun begitu, hal ini memang tidak selalu mudah.
Saat sedang marah, seseorang bisa saja ingin membalas perlakuan buruk yang diterimanya.
Pada saat seperti itu, kita perlu mengingat batasan yang telah Allah tetapkan.
Jangan sampai kesalahan orang lain membuat kita melakukan kesalahan yang baru.
Kebaikan Akan Lebih Ringan Jika Dilakukan Bersama
Manusia memiliki kemampuan yang berbeda-beda.
Ada orang yang memiliki ilmu. Ada yang memiliki harta. Ada pula yang memiliki tenaga, waktu, atau kemampuan untuk mengajak orang lain kepada kebaikan.
Berikutnya, semua kemampuan tersebut dapat digunakan untuk saling membantu.
Sebuah pekerjaan yang terasa berat dapat menjadi lebih ringan ketika dikerjakan bersama.
Hal yang sama berlaku dalam kebaikan. Ketika banyak orang saling mendukung, manfaatnya dapat menjadi lebih luas.
Misalnya, sebuah kegiatan belajar Al-Qur’an dapat berjalan karena ada orang yang mengajar, ada yang mengelola, dan ada yang mendukung kebutuhan lainnya.
Masing-masing memiliki peran yang berbeda.
Namun, semuanya dapat menjadi bagian dari kebaikan.
Mulai dari Lingkungan Terdekat
Kita tidak perlu mencari tempat yang jauh untuk mulai menerapkan ayat ini.
Keluarga adalah tempat pertama untuk belajar saling membantu.
Contohnya, orang tua dapat mengajak anak untuk membantu pekerjaan rumah. Kakak dapat membantu adiknya belajar. Suami dan istri dapat saling mendukung dalam ibadah dan tanggung jawab keluarga.
Di lingkungan kerja pun demikian.
Kita dapat membantu rekan ketika mereka membutuhkan bantuan. Kita juga dapat berbagi ilmu yang kita miliki.
Yang penting, bantuan tersebut diberikan dalam perkara yang baik.
Membantu Orang Lain Juga Perlu Keikhlasan
Ada kalanya seseorang membantu orang lain, tetapi kemudian merasa kecewa karena tidak mendapatkan penghargaan.
Padahal, tidak semua kebaikan akan langsung mendapatkan balasan dari manusia.
Terutama, ketika tujuan kita adalah mencari ridha Allah, kita tidak perlu menjadikan pujian sebagai ukuran.
Bisa jadi, orang lain tidak mengetahui bantuan yang telah kita berikan.
Namun, Allah mengetahuinya.
Karena itu, tetaplah berbuat baik meskipun tidak selalu mendapatkan ucapan terima kasih.
Jangan Hanya Menunggu Dibantu
Ayat ini juga mengajak kita untuk melihat diri sendiri.
Jangan hanya berpikir tentang siapa yang akan membantu kita.
Cobalah bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu orang lain?”
Dengan pemikiran ini, kita akan belajar menjadi orang yang lebih peka terhadap keadaan sekitar.
Mungkin ada teman yang sedang kesulitan. Mungkin ada keluarga yang membutuhkan dukungan. Bisa juga ada orang yang hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.
Kita tidak selalu harus memberikan solusi.
Terkadang, hadir dan membantu sesuai kemampuan sudah menjadi bentuk kebaikan.
Jadikan Kebaikan sebagai Kebiasaan
Berbuat baik seharusnya tidak hanya dilakukan ketika ada kesempatan besar.
Kebaikan dapat menjadi kebiasaan sehari-hari.
Misalnya, kita dapat membiasakan diri membantu orang tua, berbagi ilmu, menjaga kebersihan, membantu teman, atau mengingatkan dalam kebaikan.
Sedikit demi sedikit, kebiasaan tersebut dapat membentuk karakter.
Pada akhirnya, kita tidak hanya menjadi orang yang ingin mendapatkan kebaikan. Kita juga menjadi orang yang berusaha menghadirkan kebaikan bagi orang lain.
Penutup
QS Al-Ma’idah ayat 2 memberikan pedoman yang sederhana, tetapi sangat luas.
Allah memerintahkan kita untuk saling menolong dalam kebajikan dan takwa. Pada saat yang sama, kita dilarang bekerja sama dalam dosa dan permusuhan.
Seperti yang sudah dijelaskan, tolong-menolong bukan hanya tentang memberikan sesuatu kepada orang lain.
Menolong dapat berupa ilmu, tenaga, waktu, perhatian, nasihat, atau dukungan.
Namun, semua itu harus tetap berada dalam jalan yang diridai Allah.
Maka, mari mulai dari hal kecil.
Bantu orang di sekitar kita dalam kebaikan. Ajak kepada perkara yang bermanfaat. Jangan ikut mendukung kemaksiatan.
Terakhir, mari kita renungkan kembali pesan dari ayat ini:
“Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.”
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang senang membantu dalam kebaikan, menjaga diri dari dosa, dan mengajak orang lain menuju ketakwaan.
Sumber ayat: QS Al-Ma’idah ayat 2 — Quran NU Online




