Zubair bin Awwam رضي الله عنه merupakan salah satu sahabat Rasulullah ﷺ yang dikenal karena keberaniannya. Ia juga termasuk sahabat yang mendapat kabar gembira masuk surga.
Namanya adalah az-Zubair bin Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai رضي الله عنه. Nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah ﷺ pada Qushai.
Ibunya bernama Shafiyah binti Abdul Muthallib رضي الله عنها. Ia merupakan bibi Rasulullah ﷺ. Zubair juga memiliki kunyah Abu Abdillah.
Zubair bin Awwam رضي الله عنه masuk Islam ketika berusia delapan tahun.
Sejak masa awal Islam, Zubair telah menunjukkan keteguhan dan keberanian. Ia bahkan menjadi salah satu sahabat yang mendapat janji surga dari Rasulullah ﷺ.
Zubair bin Awwam Termasuk Sahabat yang Dijamin Masuk Surga
Zubair bin Awwam رضي الله عنه termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang mendapat kabar gembira tentang surga.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِي الْجَنَّةِ
“Abu Bakar berada di surga, Umar berada di surga, Utsman berada di surga, Ali berada di surga, Thalhah berada di surga, dan Zubair berada di surga.”
Kabar tersebut menunjukkan besarnya kedudukan Zubair رضي الله عنه di antara para sahabat.
Selain itu, Zubair juga termasuk salah satu dari enam sahabat ahli syura. Mereka adalah para sahabat yang terlibat dalam pemilihan khalifah setelah wafatnya Umar bin Khattab رضي الله عنه.
Zubair Adalah Sahabat yang Pemberani
Zubair رضي الله عنه dikenal sebagai sahabat yang memiliki keberanian besar.
Ia disebut sebagai orang pertama yang menghunus pedang di jalan Allah عز وجل.
Peristiwa tersebut terjadi ketika Zubair berada di Makkah. Saat itu, ia mendengar berita bahwa Rasulullah ﷺ telah terbunuh.
Mendengar berita tersebut, Zubair langsung datang dengan pedang yang telah dihunus.
Namun, setelah ia bertemu dengan Rasulullah ﷺ dan mengetahui bahwa beliau masih hidup, Zubair kembali memasukkan pedangnya.
Peristiwa ini menunjukkan keberanian dan kecintaannya kepada Rasulullah ﷺ.
Zubair juga mengikuti Perang Badar, Perang Uhud, serta berbagai peristiwa bersama Rasulullah ﷺ.
Zubair Memiliki Kekuatan dan Kemampuan dalam Banyak Hal
Selain keberaniannya di medan perang, Zubair رضي الله عنه juga dikenal sebagai orang yang memiliki banyak usaha.
Ia disebut memiliki seribu budak yang membayar upeti kepadanya.
Dari sisi fisik, Zubair juga memiliki tubuh yang sangat tinggi.
Contohnya, ketika ia berkendara, kedua kakinya disebut sampai menyentuh tanah.
Keberanian, kekuatan, dan kemampuan tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidup Zubair sebagai seorang sahabat Rasulullah ﷺ.
Keberanian Zubair dalam Perang Uhud
Salah satu kisah keberanian Zubair رضي الله عنه terjadi dalam Perang Uhud.
Pada waktu itu, kaum Muslimin berhadapan dengan pasukan musyrikin Quraisy. Pertempuran pun mulai berlangsung dengan sengit.
Pembawa bendera pasukan musyrikin bernama Thalhah bin Abi Thalhah al-Abdari.
Ia dikenal sebagai salah satu penunggang kuda Quraisy yang sangat berani. Kaum Muslimin menyebutnya sebagai kabsyul katîfah, yaitu panglima berkuda yang sangat kuat.
Thalhah keluar dengan menunggang unta. Ia kemudian menantang kaum Muslimin untuk melakukan perang tanding.
Tidak ada seorang pun yang segera menyambut tantangan tersebut.
Kendatipun begitu, Zubair رضي الله عنه maju menghadapi Thalhah.
Ia tidak berjalan perlahan menuju lawannya. Sebaliknya, Zubair langsung melompat dengan cepat seperti seekor singa.
Zubair kemudian berada di atas unta yang ditunggangi Thalhah. Keduanya jatuh dari tunggangan tersebut.
Setelah itu, Zubair berhasil membanting Thalhah dan membunuhnya.
Rasulullah ﷺ Memuji Keberanian Zubair
Rasulullah ﷺ menyaksikan perang tanding antara Zubair dan Thalhah tersebut.
Ketika melihat keberanian Zubair, Rasulullah ﷺ bertakbir. Kaum Muslimin kemudian mengikuti takbir beliau.
Berikutnya, Rasulullah ﷺ memuji Zubair رضي الله عنه dan bersabda:
“Sesungguhnya setiap nabi memiliki hawari, dan hawariku adalah az-Zubair.”
Kata hawari memiliki beberapa makna. Menurut beberapa ulama, hawari dapat berarti penolong, orang yang ikhlas, atau orang yang memiliki kedudukan sebagai pembantu yang dekat.
Dengan pemikiran ini, sabda Rasulullah ﷺ menunjukkan kedekatan dan keutamaan Zubair رضي الله عنه sebagai seorang sahabat.
Zubair dalam Perang Badar
Keberanian Zubair رضي الله عنه juga terlihat dalam Perang Badar.
Zubair menceritakan bahwa ia bertemu dengan Ubadah bin Sa’d al-Ash dalam peperangan tersebut.
Pada saat itu, Ubadah membawa senjata. Hampir seluruh bagian tubuhnya tertutup dan hanya kedua matanya yang terlihat.
Zubair kemudian membawa tombaknya menuju Ubadah.
Ia menusukkan tombak tersebut hingga mengenai kedua mata Ubadah dan menyebabkan kematiannya.
Zubair juga menceritakan bahwa ia sempat meletakkan kakinya di atas tubuh Ubadah. Ia mengatakan bahwa sangat sulit baginya untuk melakukan tusukan tersebut.
Kisah ini menggambarkan kerasnya pertempuran yang terjadi dalam Perang Badar.
Keberanian Zubair dalam Perang Yarmuk
Zubair رضي الله عنه juga mengikuti Perang Yarmuk.
Dalam perang tersebut, ia disebut sebagai salah satu sahabat yang paling utama dan termasuk tokoh pasukan berkuda yang pemberani.
Sekelompok pasukan kemudian berkumpul di hadapannya.
Mereka berkata kepada Zubair, “Pimpinlah kami untuk menerobos barisan musuh. Kami akan mengikuti di belakangmu.”
Zubair kemudian bertanya, “Apakah kalian sudah mantap?”
Mereka menjawab, “Ya.”
Setelah itu, Zubair dan pasukan tersebut bergerak untuk menyerang pasukan musuh.
Ketika berhadapan dengan barisan pasukan Romawi, sebagian pasukannya mundur. Zubair tetap maju menerobos barisan mereka.
Tidak lama kemudian, Zubair muncul kembali dari sisi lain barisan musuh. Ia lalu kembali kepada para sahabatnya.
Para sahabat tersebut kembali datang kepadanya. Zubair pun melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya.
Dalam peristiwa tersebut, Zubair رضي الله عنه mengalami dua luka pada bagian bahunya.
Zubair Tetap Menjawab Panggilan Allah Setelah Perang Uhud
Zubair رضي الله عنه juga termasuk orang yang memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya setelah mengalami luka dalam Perang Uhud.
Allah عز وجل berfirman:
الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ
“(Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.”
QS Ali Imran [3]: 172
Ayat tersebut menggambarkan orang-orang yang tetap memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya meskipun sebelumnya telah mengalami luka.
Zubair رضي الله عنه termasuk di antara mereka.
Zubair dalam Peristiwa Setelah Perang Uhud
Aisyah رضي الله عنها pernah menceritakan kepada Urwah bin Zubair رضي الله عنه tentang peristiwa setelah Perang Uhud.
Pada saat itu, kaum musyrikin telah mundur. Rasulullah ﷺ khawatir mereka akan kembali menyerang kaum Muslimin.
Beliau kemudian bertanya, “Siapa yang akan menghadapi mereka?”
Sebanyak 70 orang kemudian dipilih untuk menghadapi mereka. Di antara para sahabat tersebut terdapat Abu Bakar dan Zubair رضي الله عنهما.
Dengan demikian, Zubair kembali menunjukkan keberaniannya setelah mengalami luka dalam peperangan sebelumnya.
Zubair dan Peristiwa Perang Ahzab
Kisah keberanian Zubair juga terlihat dalam Perang Ahzab.
Saat kaum Quraisy dan pasukan sekutunya mengepung Madinah, kaum Muslimin membuat parit sebagai pertahanan.
Pada waktu itu, Urwah bin Zubair dan Umar bin Maslamah bin Abdul Asad ditempatkan di sebuah benteng bersama para wanita dan anak-anak.
Urwah kemudian melihat ayahnya, Zubair رضي الله عنه, datang dan pergi menuju Bani Quraizhah sebanyak dua atau tiga kali.
Ketika sore tiba, Zubair kembali menemui mereka.
Urwah kemudian berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, aku melihatmu datang dan pergi.”
Zubair bertanya, “Apakah engkau melihatku, wahai anakku?”
Urwah menjawab, “Ya.”
Kemudian, Zubair menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
“Barang siapa yang mendatangi Bani Quraizhah, hendaknya dia datang kepadaku dengan membawa berita mereka.”
Zubair pun berangkat untuk menjalankan perintah tersebut.
Setelah kembali, Rasulullah ﷺ memberikan penghormatan kepada Zubair dengan mengatakan:
“Tebusanmu adalah ayah dan ibuku.”
Peristiwa ini menjadi salah satu bentuk penghargaan Rasulullah ﷺ kepada Zubair رضي الله عنه.
Zubair Mendapat Kabar tentang Syahid
Di antara keutamaan Zubair رضي الله عنه adalah adanya kabar dari Rasulullah ﷺ tentang kesyahidannya.
Hal tersebut termasuk salah satu manaqib atau keutamaan yang disebutkan dalam sumber-sumber tentang para sahabat.
Pada waktu Perang Jamal, Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه mengingatkan Zubair tentang sesuatu yang pernah disampaikan Rasulullah ﷺ.
Setelah mengingat hal tersebut, Zubair memilih untuk meninggalkan peperangan dan kembali menuju Madinah.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa ia tidak terus berada dalam peperangan setelah mengingat pesan Rasulullah ﷺ.
Zubair Wafat Setelah Perang Jamal
Dalam perjalanan menuju Madinah, Zubair رضي الله عنه kemudian dibunuh oleh Ibnu Jurmuz.
Pembunuhan tersebut terjadi di sebuah tempat bernama lembah as-Saba’, yang disebut berjarak sekitar tujuh farsakh atau kurang lebih 35 kilometer dari Bashrah.
Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Jumadil Ula tahun 36 Hijriah.
Ibnu Jurmuz kemudian membawa kepala Zubair kepada Ali رضي الله عنه. Ia mengira akan mendapatkan penghargaan karena telah membunuh Zubair.
Namun, Ali رضي الله عنه tidak memberikan izin kepadanya untuk masuk.
Ali bahkan memberikan peringatan keras dan menyampaikan kabar bahwa pembunuh Zubair akan mendapatkan siksa neraka.
Dalam salah satu riwayat, Ali رضي الله عنه berkata:
“Sungguh, pembunuh Ibnu Shafiyah berada di neraka.”
Ibnu Shafiyah yang dimaksud adalah Zubair bin Awwam رضي الله عنه, karena ibunya bernama Shafiyah binti Abdul Muthallib رضي الله عنها.
Pelajaran dari Keberanian Zubair bin Awwam
Kisah Zubair bin Awwam رضي الله عنه bukan hanya tentang keberanian dalam peperangan.
Ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari perjalanan hidupnya.
1. Keberanian Harus Disertai Keteguhan Iman
Zubair masuk Islam ketika masih berusia delapan tahun.
Sejak muda, ia telah menunjukkan keteguhan dalam membela Rasulullah ﷺ dan agama Islam.
Karena itu, keberanian seorang Muslim tidak hanya terlihat dari kekuatan fisik. Keberanian juga terlihat ketika seseorang tetap teguh memegang kebenaran.
2. Jangan Takut Membela Kebenaran
Zubair dikenal sebagai sahabat yang berani menghadapi musuh.
Ia maju ketika orang lain belum menyambut tantangan perang tanding. Ia juga menerobos barisan musuh dalam Perang Yarmuk.
Contohnya, keberanian dalam kehidupan kita dapat berupa keberanian mengatakan sesuatu yang benar ketika keadaan tidak mudah.
3. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya
Zubair tetap memenuhi panggilan setelah mengalami luka dalam Perang Uhud.
Hal tersebut sesuai dengan gambaran Allah tentang orang-orang yang menaati Allah dan Rasul-Nya setelah mengalami luka.
Seperti yang sudah dijelaskan, ketaatan tidak selalu dilakukan ketika keadaan mudah.
Justru, ujian dapat menunjukkan seberapa kuat keteguhan seseorang.
4. Menjalankan Amanah dengan Serius
Rasulullah ﷺ memberikan tugas kepada Zubair untuk mencari berita tentang Bani Quraizhah.
Zubair menjalankan tugas tersebut dan kembali membawa informasi.
Berikutnya, kita dapat belajar bahwa sebuah amanah perlu dijalankan dengan sungguh-sungguh.
5. Keberanian Tidak Berarti Gegabah
Zubair memang dikenal pemberani.
Namun, dalam Perang Jamal, ia memilih meninggalkan peperangan setelah diingatkan tentang perkataan Rasulullah ﷺ.
Hal ini menunjukkan bahwa keberanian tetap harus disertai pertimbangan dan ketaatan.
Kendatipun begitu, keberanian bukan berarti seseorang harus selalu maju dalam setiap keadaan.
Ada waktunya seseorang harus maju. Ada pula waktunya ia harus memilih untuk mundur.
Penutup
Zubair bin Awwam رضي الله عنه merupakan salah satu sahabat Rasulullah ﷺ yang memiliki perjalanan hidup penuh keberanian.
Ia masuk Islam sejak usia muda. Ia juga termasuk sahabat yang mendapat kabar gembira tentang surga.
Zubair mengikuti berbagai peristiwa penting bersama Rasulullah ﷺ. Ia hadir dalam Perang Badar, Perang Uhud, Perang Ahzab, dan berbagai perjuangan lainnya.
Selain itu, keberaniannya juga terlihat dalam Perang Yarmuk ketika ia menerobos barisan musuh.
Namun, keberanian Zubair bukan sekadar keberanian fisik.
Ia juga menunjukkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketika diingatkan tentang pesan Rasulullah ﷺ dalam Perang Jamal, ia memilih kembali dan meninggalkan peperangan.
Pada akhirnya, Zubair رضي الله عنه wafat setelah dibunuh oleh Ibnu Jurmuz pada tahun 36 Hijriah.
Dengan demikian, kisah Zubair bin Awwam mengajarkan bahwa keberanian seorang Muslim harus berjalan bersama iman dan ketaatan.
Semoga Allah memberikan kita keteguhan dalam kebaikan dan keberanian untuk membela kebenaran.
Wallahu a'lam.




