DZIKIR PAGI DAN PETANG: PERSAKSIAN TAUHID DAN SYUKUR KEPADA ALLAH
Dzikir pagi dan petang merupakan salah satu amalan yang dianjurkan bagi seorang muslim. Di antara dzikir yang diajarkan dalam riwayat adalah dzikir yang berisi persaksian terhadap tauhid dan dzikir yang mengajarkan seorang hamba untuk mengakui seluruh nikmat berasal dari Allah Ta'ala.
Pada pembahasan ini, kita akan melanjutkan rangkaian Dzikir Pagi dan Petang (Kajian #2) dengan membahas dua dzikir:
- Dzikir persaksian tauhid di hadapan Allah dan seluruh makhluk.
- Dzikir syukur atas nikmat Allah.
1. Dzikir Persaksian Tauhid di Hadapan Allah dan Seluruh Makhluk
Apabila memasuki pagi, Rasulullah ﷺ mengajarkan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ، وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ، وَمَلَائِكَتَكَ، وَجَمِيعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ
Ketika petang, lafaz أَصْبَحْتُ diganti menjadi أَمْسَيْتُ.
Dzikir ini dibaca empat kali.
Terjemah
“Ya Allah, sesungguhnya pada pagi ini aku menjadikan Engkau sebagai saksi, dan aku menjadikan para pemikul Arsy-Mu, para malaikat-Mu, dan seluruh makhluk-Mu sebagai saksi, bahwa Engkau adalah Allah. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau semata, tidak ada sekutu bagi-Mu, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu.”
Sumber Hadits
Hadits ini diriwayatkan dari Anas bin Malik رضي الله عنه dalam Sunan Abu Dawud no. 5069. Riwayat dengan makna yang serupa juga disebutkan dalam beberapa kitab hadits lainnya.
Catatan derajat hadits: riwayat Abu Dawud no. 5069 dinilai dhaif oleh Al-Albani. Karena terdapat perbedaan penilaian di antara ulama, sebaiknya artikel tidak menyebutnya secara mutlak sebagai hadits hasan atau shahih.
Fadhilah Dzikir Persaksian Tauhid
Dalam riwayat tersebut disebutkan:
مَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ أَوْ حِينَ يُمْسِي، أَعْتَقَ اللَّهُ رُبُعَهُ مِنَ النَّارِ، فَمَنْ قَالَهَا مَرَّتَيْنِ أَعْتَقَ اللَّهُ نِصْفَهُ، وَمَنْ قَالَهَا ثَلَاثًا أَعْتَقَ اللَّهُ ثَلَاثَةَ أَرْبَاعِهِ، فَإِنْ قَالَهَا أَرْبَعًا أَعْتَقَهُ اللَّهُ مِنَ النَّارِ
Maknanya:
“Barang siapa mengucapkannya pada pagi atau petang hari, Allah membebaskan seperempat dirinya dari neraka. Jika ia mengucapkannya dua kali, Allah membebaskan setengahnya. Jika ia mengucapkannya tiga kali, Allah membebaskan tiga perempatnya. Jika ia mengucapkannya empat kali, Allah membebaskannya dari neraka.”
Fadhilah ini disebutkan langsung dalam riwayat Abu Dawud no. 5069. Karena derajat haditsnya diperselisihkan, fadhilah tersebut sebaiknya disampaikan dengan menyebutkan sumber dan status haditsnya, bukan sebagai kepastian yang tidak memiliki perbedaan penilaian.
Kandungan Tauhid dalam Dzikir Ini
Dzikir ini memiliki kandungan tauhid yang sangat kuat.
1. Mengakui Allah sebagai satu-satunya sesembahan
أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Seorang muslim memperbaharui pengakuannya bahwa hanya Allah yang berhak disembah.
2. Menafikan sekutu bagi Allah
وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ
Tidak ada sekutu bagi Allah dalam uluhiyah-Nya.
3. Mengakui kerasulan Nabi Muhammad ﷺ
وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ
Seorang muslim juga memperbaharui persaksiannya bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah hamba dan utusan Allah.
Dengan demikian, dzikir ini tidak hanya berisi permohonan, tetapi juga mengandung pengakuan terhadap dasar keimanan seorang muslim.
Mengapa Dzikir Ini Penting bagi Seorang Muslim?
Perhatikan bagaimana dzikir ini dimulai dengan persaksian:
أُشْهِدُكَ
“Aku menjadikan-Mu sebagai saksi.”
Kemudian dilanjutkan dengan menyebut:
- para pemikul Arsy,
- para malaikat,
- dan seluruh makhluk Allah.
Hal ini menggambarkan kuatnya makna persaksian yang terkandung dalam dzikir tersebut.
Setiap pagi dan petang, seorang muslim kembali mengingat siapa Rabb-nya dan siapa Rasul yang diikutinya.
Tiga Faedah Dzikir Persaksian Tauhid
Faedah Pertama: Memperbaharui Keimanan
Iman seorang hamba perlu dijaga dan dipelihara. Salah satu bentuknya adalah senantiasa mengingat kembali kalimat tauhid dan persaksian terhadap kerasulan Nabi Muhammad ﷺ.
Faedah Kedua: Menguatkan Hubungan dengan Allah
Dzikir pagi dan petang membuat seorang muslim memulai dan mengakhiri hari dengan mengingat Allah, bukan hanya dengan memikirkan urusan dunia.
Faedah Ketiga: Mengingat Kembali Identitas Seorang Muslim
Seorang muslim perlu terus mengingat:
Siapa Rabb yang disembahnya, siapa Nabi yang diikutinya, dan apa dasar keimanannya.
Dzikir ini menjadi salah satu bentuk pengingat tersebut.
2. Dzikir Pagi dan Petang untuk Mensyukuri Nikmat Allah
Selain memperbaharui tauhid, dzikir pagi dan petang juga mengajarkan seorang muslim untuk menyadari bahwa setiap nikmat berasal dari Allah Ta'ala.
Pada pagi hari dibaca:
اللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِي مِنْ نِعْمَةٍ، أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ، فَمِنْكَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، فَلَكَ الْحَمْدُ، وَلَكَ الشُّكْرُ
Pada petang hari:
اللَّهُمَّ مَا أَمْسَى بِي مِنْ نِعْمَةٍ، أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ، فَمِنْكَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، فَلَكَ الْحَمْدُ، وَلَكَ الشُّكْرُ
Terjemah
“Ya Allah, nikmat apa pun yang aku rasakan pada pagi ini, atau yang dirasakan oleh siapa pun dari makhluk-Mu, maka semuanya berasal dari-Mu semata. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Maka bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu segala syukur.”
Sumber Hadits
Hadits ini diriwayatkan dari Abdullah bin Ghannam Al-Bayadhi رضي الله عنه, di antaranya dalam Sunan Abu Dawud no. 5073 dan As-Sunan Al-Kubra karya An-Nasa'i no. 9835.
Catatan derajat hadits: riwayat ini juga memiliki perbedaan penilaian di antara ulama. Al-Albani dan Syu'aib Al-Arna'uth menilainya dhaif, sementara terdapat ulama lain yang memberikan penilaian berbeda. Karena itu, lebih aman menyebutkan adanya perbedaan penilaian hadits.
Fadhilah Dzikir Pagi dan Petang
Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan:
مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ اللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِي مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنْكَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ فَقَدْ أَدَّى شُكْرَ يَوْمِهِ، وَمَنْ قَالَ مِثْلَ ذَلِكَ حِينَ يُمْسِي فَقَدْ أَدَّى شُكْرَ لَيْلَتِهِ
Maknanya:
“Barang siapa membacanya pada pagi hari, maka sungguh ia telah menunaikan syukur hari itu. Dan barang siapa membacanya pada petang hari, maka sungguh ia telah menunaikan syukur malam itu.”
Karena status haditsnya diperselisihkan, fadhilah ini hendaknya dinisbatkan kepada riwayat tersebut dengan penjelasan mengenai perbedaan penilaian ulama.
Mengapa Dzikir Syukur Ini Sangat Bermakna?
Perhatikan susunan doanya.
1. Mengakui Seluruh Nikmat Berasal dari Allah
فَمِنْكَ وَحْدَكَ
“Dari-Mu semata.”
Seorang hamba mengakui bahwa segala nikmat yang ia terima pada hakikatnya merupakan pemberian Allah.
Kesehatan, keluarga, ilmu, rezeki, kesempatan beribadah, dan berbagai kebaikan yang kita rasakan merupakan nikmat yang patut disyukuri.
2. Menafikan Sekutu bagi Allah
لَا شَرِيكَ لَكَ
Tidak ada sekutu bagi Allah.
Seorang muslim tidak berhenti pada pengakuan bahwa dirinya mendapatkan nikmat, tetapi juga mengembalikan sumber nikmat tersebut kepada Allah.
3. Menggabungkan Pujian dan Syukur
فَلَكَ الْحَمْدُ، وَلَكَ الشُّكْرُ
“Bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu segala syukur.”
Inilah yang mengajarkan seorang hamba untuk tidak hanya menikmati nikmat, tetapi juga mengingat Pemberi nikmat tersebut.
Syukur dalam Al-Qur'an
Allah Ta'ala berfirman:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.”
QS. Ibrahim: 34
Allah juga berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian.”
QS. Ibrahim: 7
Ayat-ayat tersebut mengingatkan seorang muslim bahwa nikmat Allah sangat banyak dan tidak mungkin dihitung satu per satu.
Bentuk Syukur Seorang Hamba
Syukur tidak hanya dilakukan dengan ucapan.
Syukur tercermin dalam:
- hati, dengan mengakui bahwa nikmat berasal dari Allah;
- lisan, dengan memuji dan bersyukur kepada Allah;
- perbuatan, dengan menggunakan nikmat untuk perkara yang Allah ridhai.
Dengan demikian, syukur bukan hanya mengatakan “Alhamdulillah”, tetapi juga menggunakan nikmat tersebut dalam kebaikan.
Tiga Faedah Dzikir Syukur
Faedah Pertama: Menyadari Banyaknya Nikmat Allah
Sering kali manusia lebih mudah melihat apa yang belum dimiliki daripada apa yang sudah diberikan Allah.
Dzikir ini mengajak seorang muslim berhenti sejenak dan menyadari nikmat yang telah Allah berikan.
Faedah Kedua: Menumbuhkan Rasa Butuh kepada Allah
Ketika seseorang menyadari bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah, ia akan semakin memahami bahwa dirinya adalah hamba yang membutuhkan Rabb-nya.
Faedah Ketiga: Membentuk Hati yang Bersyukur
Membiasakan diri mengingat nikmat Allah dapat membantu seorang muslim untuk tidak mudah mengingkari nikmat dan lebih menghargai karunia yang telah diberikan kepadanya.
Penutup
Dzikir pagi dan petang bukan sekadar rangkaian bacaan yang diucapkan secara lisan.
Di dalamnya terdapat pengingat tentang tauhid, pengakuan terhadap kerasulan Nabi Muhammad ﷺ, serta latihan untuk senantiasa menyadari nikmat Allah.
Dzikir persaksian tauhid mengingatkan:
“Allah adalah Rabb-ku. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain-Nya, dan Muhammad ﷺ adalah hamba serta utusan-Nya.”
Sementara dzikir syukur mengajarkan:
“Apa pun nikmat yang aku rasakan, semuanya berasal dari Allah.”
Karena itu, membiasakan dzikir pagi dan petang dapat menjadi sarana untuk menjaga hati agar tetap terhubung dengan Allah di tengah kesibukan kehidupan.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa mengingat-Nya, mentauhidkan-Nya, mensyukuri nikmat-Nya, dan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.
Bersambung ke Dzikir Pagi dan Petang (Kajian #3).
Referensi Utama
- Sunan Abu Dawud no. 5069.
- Sunan Abu Dawud no. 5073.
- As-Sunan Al-Kubra karya An-Nasa'i.
- Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Al-Bukhari.
- Hisnul Muslim, Bab Dzikir Pagi dan Petang.




